Malaysia Buka Suara Tanggapi Wacana Tarif Selat Malaka

2 jam yang lalu 3

Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Luar Negeri Malaysia Mohamad Hasan ikut buka suara usai Menteri Keuangan Indonesia Purbaya Yudhi Sadewa mengusulkan wacana tarif untuk kapal-kapal yang masuk ke Selat Malaka.

Hasan mengatakan keputusan terkait Selat Malaka tak bisa dibuat secara sepihak.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Apa pun yang harus dilakukan di Selat Malaka harus melibatkan kerja sama keempat negara. Itulah pemahaman kami - hal itu tidak dapat dilakukan secara sepihak," kata dia saat bicara di Forum Better Nation pada Rabu (22/4), dikutip Bernama.

Hasan lalu berujar, "Hal ini karena ketika kita membuat kesepakatan bersama tentang patroli dan keamanan Selat Malaka, itulah dasarnya - tidak ada keputusan sepihak."

Dia juga mencatat bahwa Malaysia, Singapura, Indonesia, dan Thailand punya pemahaman kuat mengenai masalah ini. Keempat negara ini bisa melakukan patroli bersama di sepanjang selat untuk memastikan jalur pelayaran kapal yang aman.

Negara-negara anggota Asosiasi Bangsa Asia Tenggara (ASEAN), lanjut Hasan, menekankan negara-negara di kawasan mengadopsi pendekatan berbasis konsensus mengenai keamanan maritim.

"Bahkan di tingkat sub-komite, semuanya didasarkan pada konsensus," ujar Menlu Malaysia ini.

Di kesempatan itu, Hasan turut mengatakan Malaysia akan terus memperkuat Zona Perdamaian, Kebebasan, dan Netralitas (ZOPFAN) dan memprioritaskan sentralitas ASEAN dalam menavigasi lanskap global yang semakin kompleks.

Malaysia, lanjut dia, harus mempraktikkan "netralitas aktif" dan menghindari terjebak dalam permainan politik global.

"Kita adalah negara perdagangan, ekonomi kita adalah ekonomi terbuka, dan kita berdagang dengan semua orang. Kita tidak boleh terlihat condong ke pihak mana pun. Jika tidak, ekonomi kita akan terganggu," ujar Hasan.

Komentar Hasan muncul setelah Purbaya menyampaikan gagasan penerapan bea masuk untuk kapal-kapal yang melintasi Selat Malaka.

Sela Malaka adalah jalur air sempit di Asia Tenggara yang menghubungkan India melalui Laut Andaman ke China dan Asia Timur melalui Laut Cina Selatan. Selat ini merupakan salah satu jalur pelayaran terpenting dan tersibuk di dunia, menangani lebih dari 25 persen perdagangan global, demikian dikutip Channel News Asia.

Gagasan Purbaya disebut terinspirasi rencana Iran yang akan melakukan tindakan serupa di Selat Hormuz.

Namun, dia juga mengakui bahwa menerapkan kebijakan tersebut tak akan mudah. Pemerintah Indonesia, lanjut Purbaya, saat ini masih memandang usulan tersebut sebagai ide awal.

Pernyataan Hasan juga muncul kala Selat Hormuz ditutup imbas serangan brutal Amerika Serikat dan Israel ke Iran.

Sejak Selat Hormuz ditutup, pasokan energi global tertekan. Pemerintah negara di Asia Tenggara lalu berupaya keras mengamankan sumber bahan bakar alternatif dan menerapkan langkah-langkah meredam kenaikan biaya bahan bakar.

(isa/bac)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Baca Artikel Selengkapnya