REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Wakil Ketua Komisi I DPR RI Dave Laksono menilai bahwa TNI atau pemerintah perlu mempertimbangkan untuk mengevaluasi maupun menarik prajurit dari Lebanon. Seruan ini usai ada seorang prajurit TNI yang gugur akibat serangan Israel ke markas UNIFIL.
Menurut dia, pemerintah perlu melihat situasi keberadaan prajurit di Lebanon, apakah mampu membawa perdamaian atau justru berpotensi menjadi target serangan. Jika situasinya tidak aman, maka prajurit TNI yang bertugas sebagai pasukan perdamaian perlu ditarik mundur.
"Fungsi kita ini adalah untuk menjaga perdamaian. Nah, jelas di sana ini tidak terjadi perdamaian, justru terjadi pertempuran. Nah, jadi ya kalau begitu ya tidak bisa melaksanakan misi kita," kata Dave di kompleks parlemen, Jakarta, Senin.
Dia mengatakan bahwa Italia yang juga turut mengirimkan prajuritnya di kawasan itu, kini sudah siap untuk menarik mundur pasukannya. Tentunya, kata dia, Indonesia juga perlu menyampaikan sikap demi menjaga keselamatan prajurit TNI.
"Kita serahkan itu kepada pemerintah yang mengetahui persis kondisinya seperti apa. Kita kan hanya melihat informasi perkembangan," kata dia.
Sebelumnya, Kementerian Pertahanan membenarkan adanya satu personel TNI yang tergabung dalam pasukan perdamaian UNIFIL di Lebanon gugur dan tiga personel lain luka-luka akibat serangan artileri dari Israel, Ahad (29/3).
"Terdapat korban dari prajurit TNI, yaitu satu orang meninggal dunia, satu dalam kondisi luka berat, dan dua luka ringan yang saat ini telah mendapatkan penanganan medis," kata Kepala Biro Informasi Pertahanan (Karo Infohan) Sekretariat Jenderal Kemhan Brigadir Jenderal TNI Rico Ricardo Sirait saat dikonfirmasi ANTARA di Jakarta, Senin.
Rico menjelaskan peristiwa itu terjadi lantaran adanya eskalasi konflik yang meningkat di wilayah Lebanon.
Pemerintah Indonesia sebelumnya mengutuk keras serangan yang dilakukan terhadap pos pasukan perdamaian di Adchit al-Qusayr, Lebanon. Satu prajurit TNI yang tergabung dalam pasukan perdamaian PBB atau UNIFIL, turut gugur dalam serangan tersebut. Tiga prajurit lainnya juga mengalami luka-luka dalam serangan yang terjadi pada Ahad (29/3/2026) malam atau Senin (30/3/2026) dini hari itu.
“Indonesia mengecam sangat keras insiden tersebut dan menyerukan dilakukannya penyelidikan yang menyeluruh dan transparan atas peristiwa tersebut,” begitu kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Yvonne Mewengkang kepada Republika di Jakarta, Senin (30/3/2026).
Atas nama pemerintah Republik Indonesia, juga menyampaikan duka cita mendalam atas gugurnya prajurit TNI dalam penyerangan tersebut.
“Pemerintah Indonesia menyampaikan duka cita yang sangat mendalam atas gugurnya satu personel pemelihara perdamaian Indonesia dan tiga personel lainnya yang terluka saat bertugas di United Nation Interim Force in Lebanon (UNIFIL),” kata Yvonne.
sumber : Antara

3 minggu yang lalu
9







English (US) ·
Indonesian (ID) ·