Ketika Seni Tak Lagi Netral, Dari Opera hingga Jalanan, Dunia Mulai Terbelah

3 minggu yang lalu 10

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di sebuah panggung opera di Ankara, seorang penyanyi tampil dengan kostum militer yang bukan miliknya. Di jalanan Atlanta, seorang seniman menyeret figur politik seperti hewan peliharaan.

Sementara di ruang konser Melbourne, seorang pianis memilih mempertaruhkan kariernya demi sebuah kalimat tentang Gaza. Tiga panggung, tiga ekspresi, satu benang merah, seni yang tak lagi netral di tengah konflik global.

Tulisan Mehmet Riza di Daily Sabah membuka lapisan pertama dari fenomena ini. Ia mempertanyakan bagaimana seni, khususnya opera, bisa menjadi ruang yang samar antara ekspresi artistik dan keberpihakan politik. Riza menyoroti penampilan penyanyi opera Turki Caner Akın di Tel Aviv, hanya delapan bulan setelah tragedi Mavi Marmara. Bagi Riza, itu bukan sekadar keputusan artistik.

“Mungkin penerimaannya atas peran tersebut bukan sekadar keputusan artistik tetapi juga keputusan politik,” tulisnya, menegaskan bahwa panggung bisa menjadi ruang legitimasi kekuasaan, bukan sekadar estetika.

Kritik Riza bahkan lebih tajam ketika ia mempertanyakan legitimasi moral para seniman yang tampil dalam karya-karya yang dianggap memperkuat narasi Israel, seperti “Nabucco” dan “Fiddler on the Roof”. Ia menutup dengan satu kalimat yang terdengar seperti vonis, “Seni tidak boleh pernah dijadikan tameng bagi penindas.”

Namun, di belahan dunia lain, seni justru tampil dengan wajah yang lebih liar, bahkan nyaris absurd.

Dalam laporan Chris Nesi di New York Post, aksi “No Kings” di Atlanta berubah menjadi pertunjukan jalanan yang grotesk. Seorang seniman, Jessica Blinkhorn, menyeret figur yang menyerupai Donald Trump dan JD Vance dengan rantai, diiringi musik techno dan kostum yang sengaja dibuat ekstrem. Bagi Blinkhorn, ini bukan sekadar aksi.

“Ini adalah pertunjukan sebagai bentuk protes. Ini adalah seni dalam aksi,” tulisnya.

Di sini, seni tidak lagi bersembunyi di balik simbol atau metafora halus. Ia menjadi frontal, provokatif, bahkan vulgar. Seni berubah menjadi bahasa kemarahan publik terhadap kekuasaan, khususnya di tengah eskalasi perang Iran. Jika opera Turki dikritik karena terlalu dekat dengan kekuasaan, maka seni jalanan di Amerika justru berdiri sebagai oposisi yang terang-terangan.

Baca Artikel Selengkapnya