Jakarta, CNN Indonesia --
Tujuh pekan usai dinyatakan meninggal dunia imbas gempuran Amerika Serikat dan Israel ke Teheran, mendiang mantan pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei masih belum dimakamkan.
Khamenei tewas dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari ke Teheran yang memicu perang AS vs Iran yang meluas ke Timur Tengah hingga hari ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jika dikalkulasikan sejak saat itu, Ali Khamenei sudah meninggal selama 51 hari atau tujuh pekan lebih.
Situasi itu berbeda dengan pendahulunya, Ruhollah Khomeini, yang meninggal pada 1989 dan segera dimakamkan. Saat itu, jutaan warga Iran turut memberikan penghormatan terakhir dalam upacara pemakamannya.
Sementara itu, situasi Iran saat ini berbeda dengan dengan masa saat Khomeini meninggal. Saat ini, Iran juga masih sibuk mempertahankan diri dan membalas serangan brutal AS-Israel.
Kesibukan itu pula lah yang kemungkinan membuat Iran hingga saat ini belum mengumumkan atau menyelesaikan kapan dan di mana Khamenei bakal dikebumikan.
Namun, pakar keamanan dari Foundation for the Defence of Democracies Behnam Taleblu punya pandangan sendiri soal Iran yang belum menguburkan Khamenei.
Ia menilai penundaan pemakaman ini bukan karena Iran sibuk perang, tetapi takut menggelar acara pemakaman besar-besaran.
"Sederhananya, rezim tersebut terlalu takut dan terlalu lemah untuk mengambil risiko," kata Taleblu, dikutip NDTV.
Taleblu memperkirakan Iran takut dengan serangan udara AS-Israel atau protes massal besar-besaran.
Lebih lanjut, dia mengatakan negara yang kini dipimpin Mojtaba Khamenei ini tidak dalam posisi untuk mengadakan upacara pemakaman dengan megah. Taleblu juga menyebut pemerintahan Iran lumpuh akibat perang yang berlangsung lebih dari sebulan.
Pakar itu juga menyoroti Mojtaba Khamenei yang belum muncul ke ruang publik sejak terpilih menggantikan mendiang sang ayah sebagai pemimpin tertinggi Iran pada awal Maret.
Belakangan, muncul kabar bahwa Mojtaba sebenarnya dalam kondisi kritis dan tengah menjalani perawatan intensif akibat luka di bagian wajah dan kaki imbas serangan AS-Israel.
Lebih lanjut, Taleblu mengatakan Iran harus menjelaskan ke publik jika suatu waktu mereka mengadakan pemakaman Khamenei tanpa kehadiran Mojtaba.
"Hal ini menunjukkan betapa besarnya jumlah orang yang hadir pada pemakaman pendiri rezim pada 1989. Namun, satu generasi kemudian penggantinya masih belum bisa dimakamkan lebih dari sebulan setelah kematian dia," kata Taleblu.
"Republik Islam suka sesumbar tentang menguasai jalanan, tetapi pemadaman internet selama 50 hari sudah cukup menjelaskan semuanya. Rezim takut akan konsekuensi jika kebenaran terungkap," imbuh dia.
(isa/rds)
Add
as a preferred source on Google

2 jam yang lalu
1








English (US) ·
Indonesian (ID) ·