Jajanan Tradisional Terdesak Kuliner Modern, Inovasi Jadi Kunci Bertahan

2 jam yang lalu 3

Rembang, NU Online

Popularitas jajanan tradisional kian menurun. Salah satu penyebabnya adalah persaingan ketat dengan kuliner modern. Kehadiran makanan cepat saji membuat sebagian masyarakat beralih pilihan. Kondisi ini dirasakan langsung oleh Fina, penjual jajanan tradisional yang telah menekuni usaha tersebut sejak sekitar 1990.


Fina memulai usahanya dengan berjualan di Pasar Gupit, Sumbergirang. Saat itu, berbagai jenis jajanan tradisional seperti bungko cunduk, pertolo, apem, bongko menir, gethuk, hingga tiwul masih mudah ditemukan dan diminati banyak pembeli.


“Selama lebih dari 20 tahun, penjualan masih aman dan pembelinya banyak,” ujar Fina kepada NU Online, Kamis (23/4/2026).


Namun, kondisi tersebut mulai berubah sejak sekitar 2010. Ia mengaku minat masyarakat terhadap jajanan tradisional perlahan menurun. Situasi semakin sulit ketika harga bahan baku mengalami kenaikan.


“Kalau harga dinaikkan, pembeli hanya melihat-lihat. Tapi kalau tidak naik, pasti merugi,” katanya.


Akibat kondisi tersebut, Fina sempat menghentikan aktivitas berjualannya selama kurang lebih empat tahun. Harapan kembali muncul seiring perkembangan media sosial dan maraknya penjualan daring.


Menurutnya, sistem penjualan dengan metode open order melalui platform digital mulai menghidupkan kembali usahanya. Jangkauan pemasaran pun meluas hingga ke wilayah Kabupaten Rembang.


Meski demikian, tantangan tetap ada. Fina menilai generasi milenial cenderung kurang tertarik pada jajanan tradisional, sehingga keberlanjutan usaha ini membutuhkan perhatian lebih.


Ia berharap pemerintah maupun pihak terkait dapat lebih sering mengadakan kegiatan UMKM yang melibatkan pedagang kecil. Namun, ia juga menyoroti biaya partisipasi dalam kegiatan yang dinilai cukup tinggi, yakni di atas Rp100 ribu per hari, serta dominasi jajanan modern dalam kegiatan tersebut.


“Jarang sekali ada jajanan tradisional di acara. Padahal itu bisa menjadi kesempatan untuk mengenalkan kembali ke masyarakat,” ujarnya.


Fina berharap ke depan ada kegiatan khusus yang mengangkat jajanan tradisional, sekaligus mendorong promosi kuliner lokal dalam berbagai agenda masyarakat.


Ia juga berpesan kepada generasi muda agar lebih mengenal dan mencintai jajanan tradisional, serta berani menghadirkan inovasi dalam kemasan yang lebih menarik agar tetap relevan dengan perkembangan zaman.


Sementara itu, Theresia Yovanka Angelia Siregar, asisten juru masak kue di salah satu hotel, menilai makanan tradisional sejatinya masih tetap eksis.


“Menurut saya tidak, karena sampai saat ini makanan tradisional masih banyak ditemui. Bahkan, di hotel tempat saya bekerja masih menyediakan menu tradisional,” ujarnya.


Ia menjelaskan, kecenderungan masyarakat memilih makanan cepat saji dipengaruhi faktor kepraktisan. “Mungkin karena penyajiannya cepat dan tidak ribet. Saat merasa malas tetapi ingin makan, banyak orang memilih makanan cepat saji,” tambahnya.


Meski demikian, ia optimistis makanan tradisional masih dapat bertahan di tengah arus modernisasi. Menurutnya, berbagai inovasi telah dilakukan agar kuliner tradisional lebih diterima, terutama di kalangan anak muda.


“Masih bisa bertahan, karena sekarang banyak inovasi makanan tradisional yang lebih bersahabat dengan selera anak muda yang jarang ke pasar tradisional,” jelasnya.


Salah satu bentuk inovasi adalah mengubah tampilan dan jenis sajian. “Misalnya, jajanan pasar diolah menjadi cake. Ini lebih mudah diterima anak muda, apalagi tren bake house dan foto makanan sedang berkembang,” katanya.


Ia menambahkan, inovasi tidak hanya soal bentuk, tetapi juga menyesuaikan dengan perkembangan zaman. “Lebih pada mengolah sesuatu agar sesuai dengan kebutuhan dan selera masa kini,” ujarnya.


Dari segi rasa, penyesuaian tetap diperlukan agar dapat diterima berbagai kalangan. “Perlu penyesuaian rasa agar tetap pas di lidah konsumen,” katanya.


Lebih lanjut, teknik memasak modern seperti steam, grill, air fryer, dan baking dinilai dapat diterapkan dalam pengolahan kuliner tradisional, termasuk dalam pembuatan berbagai varian cake berbasis jajanan pasar.


Ia juga membagikan pengalaman inovasi yang pernah dilakukan, yakni mengolah klepon dan es teler menjadi cake. “Elemen klepon dan es teler tetap ada, tetapi dibuat dengan gula rendah kalori sehingga lebih aman dikonsumsi berbagai kalangan,” jelasnya.


Menurutnya, inovasi menjadi kunci utama untuk menjaga keberlangsungan kuliner tradisional. “Eksistensi makanan tradisional akan tetap terjaga jika pelaku usaha mampu berinovasi dan menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman,” pungkasnya.

Baca Artikel Selengkapnya