IRGC Umumkan 'Operasi Nasr', Israel akan Dihujani Drone dan Rudal 7 Hari ke Depan

1 jam yang lalu 2

Sebuah proyektil melintasi langit malam di atas kota Nablus, Tepi Barat, 7 Juni 2026. Iran kembali menyerang Israel setelah negara Zionis mengebom Beirut.

REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN -- Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) pada Senin (8/6/2026) mengumumkan dimulainya kampanye militer bernama 'Operasi Nasr', sebagai respons atas agresi Israel. Menurut pernyatan resmi IRGC dikutip Pakistan Observer, Angkatan Udara IRGC menargetkan sejumlah fasilitas kunci di pangkalan udara Nevatim dan Tel Nof, dua markas udara penting Israel.

Operasi Nasr digelar pada Senin pagi sebagai jawaban atas Israel yang melancarkan serangan ke sejumlah target di Iran termasuk instalasi radar di beberapa tempat. "Gelombang rudal dan drone akan terus diluncurkan untuk 7 hari ke depan hingga musuh ditangkal dan berhenti melaksanakan kejahatannya," demikian peringatan dari IRGC.

Operasi Nasr khusus didedikasikan bagi para syuhada yang gugur pada perang 12 hari tahun lalu. Operasi dieksekusi lewat frasa kode "Ya Heydar Karrar", menurut keterangan IRGC.

"Dengan keimanan kepada Tuhan yang Mahakuasa, beberapa menit lalu para pejuang pemberani dari Angkatan Udara IRGC melancarkan Operasi Nasr, menargetkan pusat kunci dari pangkalan udara strategis Nevatim dan Tel Nof."

Teheran sebelumnya memberi peringatan keras kepada Israel setelah rezim Zionis melancarkan serangan udara ke Beirut, Lebanon. Iran meminta Israel menghentikan agresi terhadap Lebanon karena itu menjadi bagian dari syarat kesepakatan gencatan senjata pada 8 April 2026.

Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Iran menegaskan bahwa operasi militer terbaru mereka terhadap Israel digelar sejalan dengan kerangka pembelaan-diri sesuai Pasal 51 dari Piagam PBB. Menurut Iran, serangan terbaru mereka sebagai respons atas Israel yang terus melanggar kesepakatan gencatan senjata, termasuk berkolaborasi dengan Amerika Serikat (AS) menyerang kapal-kapal Iran dan beberapa target di selatan Iran dalam dua pekan terakhir.

Iran menegaskan, gencatan senjata di Lebanon adalah hal yang tidak terpisahkan dari kesepakatan gencatan senjata 8 April, dan AS bertanggung jwab langsung atas pelanggaran oleh Israel dan eskalasi apapun di kawasan. Kemenlu Iran juga mengingatkan bahwa petualangan jahat rezim Zionis terhadap Lebanon atau Iran akan bertemu dengan respons tegas dan menghancurkan dari Angkatan Bersenjata Iran.

"Republik Islam Iran menegaskan kembali determinasi serius untuk secara tepat mempertahankan kemanannya dan kepentingan nasional kapanpun itu diperlukan," demikian keterangan resmi Kemenlu Iran.

sumber : Antara, Anadolu

Baca Artikel Selengkapnya