REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN – Indikator awal muncul tentang bagaimana Iran memandang kesepakatan tentatif yang diumumkan oleh Pakistan dan Presiden AS Donald Trump mengenai kesepakatan antara AS dan Iran. Agresi AS dan Israel yang berhasil dihalau Iran dan kesepakatan mendatang disebut akan membawa era baru bagi kawasan.
“Selamat datang di era baru Timur Tengah,” tulis Kedutaan Besar Iran di Turki selepas pengumuman kesepakatan awal oleh Trump. Bendera Iran tampak terkibar di seberang Selat Hormuz.
AS selama ini dinilai sebagai pemegang hegemoni di kawasan. Sejak 1990-an, berbagai aksi militer AS telah memorak-porandakan wilayah itu. Dukungan luas AS juga memungkinkan Israel terus melanjutkan penjajahan di Palestina dan serangan ke negara-negara sekitarnya.
Petualangan AS di kawasan ditopang perjanjian dagang dengan negara Teluk yang memungkinkan juga berdirinya berbagai pangkalan militer AS di berbagai negara.
Aksi balasan Iran atas pangkalan-pangkalan itu menunjukkan bahwa klaim perlindungan oleh AS ternyata omong kosong. Alih-alih dilindungi, negara-negara Teluk justru habis amunisi pencegatnya untuk mencegah kehancuran total pangkalan-pangkalan AS.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi hari Ahad menegaskan bahwa negara-negara di kawasan secara bertahap mulai menyadari bahwa keamanan berkelanjutan, pembangunan ekonomi, dan stabilitas regional hanya dapat dicapai melalui kerja sama di antara semua negara di kawasan dan saling menghormati kepentingan mereka.
Berbicara pada pertemuan dengan pejabat lokal dan aktivis demonstrasi populer, Araghchi mengatakan, “Pengalaman perang baru-baru ini telah membuktikan bahwa keamanan regional tidak dapat dibangun dengan mengecualikan atau meminggirkan Iran,” dan menambahkan bahwa setiap arsitektur keamanan baru di kawasan memerlukan “partisipasi penuh dan kerja sama dari semua negara.”
Dia menekankan bahwa “rakyat Iran menggagalkan skema musuh melalui ketabahan mereka dalam menghadapi tekanan dan ancaman,” mengirimkan pesan yang jelas kepada dunia, dan “berhasil mencapai keuntungan strategis yang dampaknya kini terasa di seluruh kawasan dan global.”
Araghchi menegaskan bahwa “kohesi nasional, perlawanan rakyat, dan kehadiran mereka di lapangan publik merupakan pilar utama kekuatan diplomatik Iran,” dan mengatakan bahwa ketabahan Iran telah mengungkap realitas kekuatannya dan menghancurkan narasi musuh tentang kemundurannya.
Dia lebih lanjut mengatakan bahwa Iran telah bangkit dari perang dengan lebih kuat dan lebih bersatu, sebuah hasil dari ketabahan dan solidaritas rakyat serta kemampuan pertahanannya.
Araghchi sebelumnya mengatakan kepada Al Mayadeen bahwa Teheran mencapai keuntungan strategis melalui perang tersebut, dan menekankan bahwa arsitektur keamanan kawasan harus dibangun oleh negaranya sendiri, bebas dari campur tangan AS dan pangkalan militer.
Wakil Presiden AS JD Vance, pendukung utama perjanjian untuk mengakhiri perang terhadap Iran, mengatakan bahwa perjanjian gencatan senjata yang diumumkan dapat berarti “era baru” di Timur Tengah, dan ia memuji upaya Trump dengan negara-negara Teluk dan sekutu regional untuk mengamankan perjanjian tersebut.
“Apa yang telah dilakukan presiden adalah menciptakan ruang nyata untuk mentransformasi kawasan tersebut,” katanya kepada Fox News. “Dan sekarang, semoga ada era baru bagi Iran.”
“Saya pikir kita dapat dengan aman mengatakan, dengan keyakinan, bahwa Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir,” katanya juga yang merupakan posisi penting bagi AS.
“Ini merupakan hal yang luar biasa bagi rakyat Amerika,” kata Vance, mengungkapkan harapan bahwa harga energi kini akan turun. Ia mengatakan rencananya akan hadir pada upacara penandatanganan minggu depan, dan kemungkinan Trump juga akan hadir di sana.

1 jam yang lalu
3








English (US) ·
Indonesian (ID) ·