Personel militer Taiwan berjaga-jaga di tengah latihan selama kunjungan Presiden Tsai Ing-wen di pangkalan militer di Chiayi, Taiwan, Jumat (6/1/2023). Pada 05 Januari, sebuah kapal perang Amerika Serikat berlayar melalui perairan internasional di Selat Taiwan sebagai bagian dari apa militer AS menyebut aktivitas rutin, yang membuat marah China.
REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Seorang pejabat militer senior Amerika Serikat mengatakan Washington menunda penjualan senjata senilai 14 miliar dolar AS ke Taiwan untuk menghemat amunisi bagi perang melawan Iran.
Pelaksana Tugas Menteri Angkatan Laut Hung Cao menyampaikan kabar baru tersebut kepada para anggota parlemen selama sidang Senat pada Kamis atau sepekan setelah penjualan senjata tersebut menjadi fokus utama dalam pembicaraan antara Presiden AS Donald Trump dan pemimpin Tiongkok Xi Jinping di Beijing.
“Saat ini, kami sedang melakukan jeda untuk memastikan kami memiliki amunisi yang dibutuhkan untuk Epic Fury – dan kami memiliki banyak amunisi,” kata Cao kepada Subkomite Alokasi Anggaran Senat untuk Pertahanan.
“Tetapi kami hanya memastikan kami memiliki semuanya, tetapi penjualan militer ke luar negeri akan dilanjutkan ketika pemerintah menganggap perlu.”
Cao mengatakan bahwa keputusan untuk melanjutkan penjualan tersebut – yang akan menjadi transfer senjata terbesar yang pernah ada ke Taiwan – akan dibuat oleh Menteri Pertahanan Pete Hegseth dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio.
Perang telah dihentikan sementara sejak AS dan Iran menyetujui gencatan senjata pada 8 April. Namun kedua pihak belum mencapai kesepakatan perdamaian permanen.
Adapu Kongres AS telah menyetujui paket penjualan senjata untuk Taiwan pada bulan Januari. Namun penjualan tersebut membutuhkan persetujuan Trump untuk dilanjutkan.
Jika disetujui, penjualan tersebut akan melampaui paket senjata senilai $11 miliar untuk Taiwan yang disetujui oleh Trump pada Desember.
Perdana Menteri Taiwan Cho Jung-tai mengatakan kepada wartawan pada Jumat bahwa Taiwan akan terus mengejar pembelian senjata. Demikian menurut kantor berita Taiwan FTV News.

2 minggu yang lalu
16








English (US) ·
Indonesian (ID) ·