Gubernur BI: Kinerja NPI perlu diperkuat untuk mitigasi dampak perang

2 jam yang lalu 4
sinergi kebijakan untuk memperkuat kinerja neraca pembayaran perlu terus ditingkatkan sehingga dapat menjaga ketahanan eksternal perekonomian

Jakarta (ANTARA) - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menilai kinerja Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) perlu diperkuat sehingga dapat memitigasi dampak berlanjutnya perang di Timur Tengah.

Tercatat, neraca perdagangan pada Januari-Februari 2026 mengalami surplus sebesar 2,2 miliar dolar AS, terutama bersumber dari surplus neraca perdagangan non migas serta defisit neraca perdagangan migas yang menurun.

“Dari transaksi modal dan finansial, investasi portofolio asing pada Januari-Maret 2026 mencatat net outflows sebesar 1,7 miliar dolar AS, terutama dipengaruhi oleh ketidakpastian pasar keuangan global yang dipicu perang di Timur Tengah,” katanya dalam agenda Pengumuman Hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bulan April 2026 yang diadakan secara virtual, Jakarta, Rabu.

Pada awal triwulan II-2026 (hingga 20 April 2026), lanjut dia, aliran modal kembali mencatat net inflows sebesar 1,9 miliar dolar AS, terutama ditopang aliran masuk modal asing ke Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN) didorong oleh peningkatan imbal hasil di kedua instrumen.

Baca juga: BI perkirakan ekonomi Indonesia tumbuh 4,9-5,7 persen pada 2026

Baca juga: Perkuat stabilisasi nilai tukar, BI-Rate tetap 4,75 persen pada April

Pada akhir Maret 2026, posisi cadangan devisa (cadev) Indonesia tercatat sebesar 148,2 miliar dolar AS, setara dengan pembiayaan 6,0 bulan impor atau 5,8 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

“Ke depan, sinergi kebijakan untuk memperkuat kinerja neraca pembayaran perlu terus ditingkatkan sehingga dapat menjaga ketahanan eksternal perekonomian di tengah tingginya ketidakpastian global akibat perang Timur Tengah,” ungkap dia.

Bank Indonesia memprakirakan defisit transaksi berjalan 2026 dalam kisaran defisit 1,3 persen sampai dengan 0,5 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Baca juga: Tekanan belum reda, ekonom prediksi BI-Rate bertahan di 4,75 persen

Baca juga: BI teken kerja sama dengan lima kampus jembatani kebutuhan dunia kerja

Pewarta: M Baqir Idrus Alatas
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Baca Artikel Selengkapnya