Greenpeace: Hutan Papua Dikorbankan demi Penuhi Pasar Energi Hijau Global

2 jam yang lalu 1

Jakarta, NU Online

Greenpeace Indonesia menilai pembangunan proyek pangan dan energi di Papua menjadikan wilayah dengan kekayaan sumber daya alam sebagai "zona pengorbanan" demi memenuhi kebutuhan pasar global, termasuk dalam agenda transisi energi hijau.


Juru Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia, Refki Saputra mengatakan indikasi tersebut terlihat dari skala alokasi lahan yang sangat luas untuk proyek pangan dan energi hijau di Papua.


“Sepertinya mengarah kesitu (demi memenuhi kebutuhan pasar global). Jika melihat bagaimana lahan seluas 560 ribu hektar dialokasikan untuk 10 perusahaan tebu swasta untuk gula dan bioetanol, yang mana angka ini melebihi dari luas tanam tebu nasional yang berkisar 489 ribu hektar. Belum lagi alokasi lahan untuk perkebunan sawit yang akan menghasilkan B50 seluas 417 ribu hektar,” kata Refki kepada NU Online, Jumat (26/6/2026).

Greenpeace juga menyoroti besarnya potensi emisi karbon yang dapat dilepaskan akibat pembukaan hutan untuk perkebunan tebu dan proyek pangan-energi di Papua. Menurut Refki, klaim penurunan emisi melalui penggunaan bioetanol justru berpotensi tertutupi oleh emisi yang dihasilkan dari deforestasi.


Ia mengungkapkan, hingga April 2026, deforestasi di konsesi tebu telah mencapai hampir 20 ribu hektare atau setara dengan emisi karbon hampir delapan juta ton karbon dioksida. Sementara itu, potensi emisi karbon dari deforestasi di 10 konsesi tebu diperkirakan sedikitnya mencapai 150 juta ton karbon dioksida.


Sebagai perbandingan, Refki mengacu pada data pemerintah tahun 2023 yang menyebut target penurunan emisi sektor energi dalam skenario CM1 sebesar 358 juta ton karbon dioksida, sedangkan kontribusi dari sektor bahan bakar nabati ditargetkan sekitar 47,5 juta ton karbon dioksida.


“Data Global Forest Watch (GFW) yang menunjukkan bahwa sepanjang 2002 hingga 2025, Merauke kehilangan sekitar 110 ribu hektare hutan primer basah. Angka tersebut menyumbang 62 persen dari total kehilangan tutupan pohon selama periode yang sama. Dalam kurun waktu itu, luas hutan primer basah di Merauke menyusut sekitar persen persen,” jelasnya.


Menurutnya, apabila seluruh rencana pembukaan 560 ribu hektare kebun tebu direalisasikan, emisi yang dihasilkan diperkirakan mencapai 221 juta ton karbon dioksida atau setara dengan emisi tahunan sekitar 48 juta mobil.


Ia menambahkan, potensi emisi dapat menjadi jauh lebih besar apabila memperhitungkan keseluruhan kawasan seluas 2,7 juta hektare yang masuk dalam Proyek Strategis Nasional (PSN) pangan dan energi hijau di Papua Selatan.

Baca Artikel Selengkapnya