Ekonom: Prospek rupiah ditentukan arah pascagenjatan AS-Iran

1 minggu yang lalu 4

Jakarta (ANTARA) - Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai prospek nilai tukar rupiah ke depan sangat bergantung pada arah pascagenjatan Amerika Serikat (AS) dan Iran, apakah berlanjut menjadi awal meredanya konflik atau hanya jeda taktis yang berisiko kembali mendorong tekanan eksternal.

“Kesepakatan ini (gencatan senjata sementara) masih jauh dari penyelesaian, isu inti konflik belum terselesaikan, dan ujian sesungguhnya tetap pada apakah lalu lintas kapal di Selat Hormuz benar-benar kembali normal,” kata Josua saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Rabu.

Ia menambahkan, bahkan terdapat penilaian bahwa jika yang terjadi hanya penundaan, harga minyak cenderung menetap di sekitar 100 dolar AS per barel sebagai pijakan baru, bukan kembali cepat ke kondisi sebelum perang.

“Saya melihat kabar gencatan senjata sementara antara AS dan Iran memang memberi bantalan positif bagi rupiah, tetapi dampaknya lebih sebagai penahan tekanan daripada pendorong penguatan besar,” kata Josua.

Baca juga: Cadangan devisa Maret turun seiring bayar utang dan stabilisasi rupiah

Setelah kesepakatan gencatan senjata AS-Iran selama dua minggu diumumkan, Josua mencatat harga minyak Brent turun sekitar 16 persen ke 91,70 dolar AS per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) turun 14 persen.

Kemudian, indeks dolar melemah sekitar 0,6-0,7 persen, imbal hasil surat utang AS menurun, dan pasar kembali membuka peluang penurunan suku bunga The Fed hingga sekitar 60 persen pada akhir tahun.

Bagi rupiah, catat Josua, kombinasi faktor ini menurunkan tekanan dari sisi impor energi, meredam dorongan penguatan dolar sebagai aset aman, dan sedikit memperbaiki selera risiko terhadap aset negara berkembang.

“Namun sebelum kabar ini pun pasar masih sangat berhati-hati. Saya menilai sentimen gencatan senjata ini belum cukup kuat untuk membalik arah rupiah secara tegas, tetapi cukup berarti untuk mencegah pelemahan yang lebih dalam dalam jangka sangat pendek,” kata dia.

Pewarta: Rizka Khaerunnisa
Editor: Zaenal Abidin
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Baca Artikel Selengkapnya