Ekonom optimistis pertumbuhan ekonomi 5,5 persen triwulan I tercapai

3 minggu yang lalu 10

Jakarta (ANTARA) - Ekonom Universitas Paramadina Wijayanto Samirin optimistis pertumbuhan ekonomi nasional pada triwulan I-2026 mampu mencetak angka 5,5 persen, sebagaimana target yang ditetapkan oleh pemerintah.

Menurut Wijayanto, kinerja ekonomi pada triwulan I mendapat dorongan dari sejumlah faktor, utamanya dari dorongan momentum musiman serta akselerasi belanja pemerintah.

“Target pertumbuhan 5,5 persen pada kuartal I-2026 akan tercapai, terutama akibat efek Natal dan Tahun Baru plus lebaran, dan belanja pemerintah yang digeber sejak awal tahun,” kata Wijayanto saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Rabu.

Meski begitu, ia menyoroti beberapa tantangan ekonomi yang kemungkinan menghambat performa pertumbuhan pada sisa triwulan tahun ini, di antaranya potensi krisis energi, inflasi tinggi, dan daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya membaik.

Untuk menekan risiko negatif dari tantangan tersebut, Wijayanto menyarankan pemerintah untuk tetap menggelontorkan subsidi bahan bakar minyak (BBM) sehingga inflasi tetap terkendali.

Secara paralel, kebijakan bekerja dari rumah atau work from home (WFH) selama satu hari kerja perlu dijalankan untuk mengurangi konsumsi BBM.

“Tetapi, regulasi perlu disiapkan, terutama untuk menentukan sektor apa saja yg tidak WFH, khususnya sektor manufaktur,” katanya.

Kemudian, dia juga mendorong optimalisasi belanja pemerintah terhadap program yang memberikan daya dorong pertumbuhan ekonomi. Wijayanto berpendapat efisiensi anggaran program seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) bisa menjadi sumber pendanaan untuk program lain yang membutuhkan.

Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal I-2026 tumbuh di kisaran 5,5 persen hingga 5,6 persen (yoy). Target ini didorong oleh percepatan belanja negara, stimulus fiskal, dan penguatan daya beli masyarakat, khususnya di tengah periode Ramadhan dan Idul Fitri.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa pun menilai Indonesia masih aman dari kondisi darurat energi di tengah eskalasi konflik antara AS-Israel dengan Iran.

Bendahara negara juga tetap optimistis terhadap prospek ekonomi setelah Idul Fitri.

Perekonomian nasional, kata dia, bisa jadi melambat bila ketegangan geopolitik terus tereskalasi. Namun, Purbaya menyatakan bakal terus memperkuat permintaan dalam negeri agar ekonomi domestik tetap terjaga.

Langkah yang akan diambil mencakup dukungan terhadap sektor swasta, menjaga daya beli masyarakat, mengelola harga BBM subsidi dari dampak harga minyak global, hingga mendorong belanja pemerintah agar terserap tepat waktu.

Pemerintah juga telah mematangkan kebijakan WFH. Keputusan final kebijakan ini akan segera diumumkan dalam waktu dekat.

Pewarta: Imamatul Silfia
Editor: Hanni Sofia
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Baca Artikel Selengkapnya