Jakarta (ANTARA) - Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Aviliani menilai stabilitas makroekonomi Indonesia perlu diikuti penguatan kepercayaan pasar atau market confidence agar arus modal, nilai tukar rupiah, dan investasi dapat lebih terjaga.
“Antara stabilitas dengan market confidence ini yang perlu diperhatikan. Pemerintah mencoba menjaga dengan data-data makro yang sudah sangat baik, tetapi masalahnya confidence,” kata Aviliani di Jakarta, Selasa.
Ia mengatakan indikator makro Indonesia masih menunjukkan ketahanan, namun persepsi pasar tetap perlu dijaga karena dapat memengaruhi arus modal keluar, nilai tukar rupiah, serta keputusan investasi pelaku usaha.
Menurut dia, tekanan terhadap rupiah antara lain dipengaruhi keluarnya modal asing dari pasar keuangan domestik.
“Kalau kita lihat kenapa terjadi pelemahan, satu adalah capital outflow cukup banyak,” ujarnya.
Dalam paparannya, Aviliani menyebut rupiah melemah 6,18 persen secara year to date terhadap dolar AS, lebih dalam dibandingkan sejumlah mata uang utama negara ASEAN lainnya.
Sementara itu, nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan Selasa melemah 52 poin atau 0,29 persen menjadi Rp17.796 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.744 per dolar AS.
Ia menilai Bank Indonesia (BI) telah melakukan berbagai langkah stabilisasi, antara lain melalui instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), intervensi pasar, serta operasi moneter dan stabilisasi pasar keuangan.
Namun, Aviliani mengatakan kebijakan moneter perlu didukung kebijakan fiskal dan sektor keuangan yang konsisten agar mampu membangun persepsi positif bagi investor.
“Ketiga-tiganya ini harus bersama-sama untuk memberikan persepsi yang positif ke depannya,” ucap dia.
Ia menilai Indonesia masih memiliki potensi ekonomi yang baik karena konsumsi rumah tangga tetap tumbuh dan investasi masih berjalan.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen secara tahunan pada Triwulan I-2026, ditopang konsumsi rumah tangga yang tumbuh 5,52 persen, serta investasi yang meningkat 5,96 persen, dan percepatan belanja pemerintah.
Pemerintah sebelumnya dalam Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) 2027 menargetkan pertumbuhan ekonomi berada pada kisaran 5,8 persen hingga 6,5 persen, inflasi 1,5 persen hingga 3,5 persen, serta tingkat pengangguran terbuka 4,30 persen hingga 4,87 persen.
Menurut Aviliani, target tersebut memerlukan dukungan iklim usaha yang kondusif karena keputusan investasi bersifat jangka panjang dan sangat dipengaruhi kepastian kebijakan.
Ia mengatakan pemerintah perlu lebih banyak berkomunikasi dengan pelaku ekonomi, termasuk swasta, badan usaha milik negara (BUMN), dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), agar kebijakan yang dikeluarkan tidak berisiko menimbulkan ketidakpastian di pasar.
“Harus banyak komunikasi dengan pelaku ekonomi, karena pelaku ekonomi adalah swasta, BUMN dan juga mungkin UMKM. Nah di sini kalau saya lihat ini gap-nya terjadi,” ungkap Aviliani.
Paparan Aviliani juga mengutip survei Kadin Business Pulse Triwulan I-2026 yang menunjukkan 40,5 persen pelaku usaha menilai kondisi bisnis memburuk dibandingkan triwulan sebelumnya, 34,3 persen menilai kondisi usaha stagnan, dan 25,2 persen menyebut kondisi bisnis membaik.
Menurut Aviliani, kondisi tersebut menjadi sinyal bahwa stabilitas makro perlu disertai konsistensi kebijakan, komunikasi yang lebih baik, serta implementasi reformasi yang dirasakan langsung oleh sektor riil untuk meningkatkan kepercayaan pasar.
"Ini perlu dijaga karena itu akan mempengaruhi nilai tukar, itu akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi dari sisi investasi,” tuturnya.
Sementara itu, pemerintah dan otoritas moneter terus menjaga stabilitas pasar keuangan di tengah tekanan global.
BI sebelumnya menegaskan akan terus melakukan langkah stabilisasi nilai tukar rupiah melalui intervensi di pasar valas, penguatan instrumen moneter, serta menjaga kecukupan likuiditas guna mempertahankan stabilitas sistem keuangan nasional.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sebelumnya juga menyatakan optimistis nilai tukar rupiah dapat kembali menguat menuju kisaran Rp15.000 per dolar AS seiring penguatan fundamental ekonomi domestik, pengendalian inflasi, serta upaya menjaga stabilitas pasar keuangan.
Baca juga: Rupiah melemah seiring serangan baru AS ke Iran
Baca juga: Indef: Stabilitas rupiah krusial topang target ekonomi 2027
Pewarta: Aria Ananda
Editor: Ahmad Wijaya
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.









English (US) ·
Indonesian (ID) ·