Jombang, NU Online
Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) PBNU menggelar Rakornas VII di Unwaha, Jombang, Jawa Timur Ahad (14/6/2026). Forum ini menjadi bagian dari agenda Muktamar Kebudayaan Indonesia yang diselenggarakan sejak Jumat (12/6/2026) di tempat yang sama.
Budayawan Indonesia, KH Muhammad Yusuf Chudori (Gus Yusuf) dalam kesempatan ini menegaskan bahwa budaya dan agama adalah kesatuan yang tidak seharusnya dibentur-benturkan.
Pengasuh Asrama Perguruan Islam (API) Pondok Pesantren Salafi Tegalrejo, Magelang, Jawa Tengah ini kemudian menyampaikan satu kisah yang sering diceritakan KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur kepadanya.
"Suatu ketika Gus Dur bercerita bahwa di sebuah kampung terjadi konflik antara dua kelompok masyarakat terkait penggunaan dana desa," ujarnya mengawali cerita tersebut.
Mereka adalah sekelompok pegiat seni yang ingin membeli seperangkat gamelan, dan sekelompok yang lain ingin agar dana tersebut digunakan untuk membeli keperluan masjid. Permasalahan ini pun akhirnya diadukan kepada kiai setempat untuk mencari jalan keluar.
Melihat itu, sang kiai lebih menyarankan agar dana desa tersebut digunakan untuk membeli gamelan saja. Sontak ini menimbulkan perdebatan antara kelompok yang merasa bahwa membeli keperluan masjid adalah pilihan yang lebih baik untuk pengembangan agama.
Namun, kiai memberi jawaban beserta alasan bahwa perizinannya untuk membeli gamelan adalah untuk menyatukan masyarakat terlebih dahulu karena masyarakat pada saat itu gemar dengan seni gamelan. "Yang penting rukun," ujar KH Yusuf Chudori menggambarkan ucapan sang kiai.
Sang kiai meyakinkan masyarakat bahwa dengan kerukunan yang sudah terbangun, maka masyarakat akan lebih mudah diajak untuk kebaikan-kebaikan lainnya.
"Apabila kerukunan sudah tercipta, masjid-masjid akan ramai dengan sendirinya karena di antara masyarakat sudah memiliki rasa saling memiliki," ungkapnya.
Putra KH Chudori tersebut menegaskan bahwa Lesbumi sebagai lembaga yang berkonsentrasi pada seni dan budaya nusantara memiliki andil yang besar untuk mengharmonisasi antara agama dan budaya di nusantara dengan tetap mempertahankan unsur-unsur budaya.
"Dalam hal ini Lesbumi berfungsi untuk mengharmonisasi berbagai macam konflik melalui seni dengan menggabungkan unsur-unsur budaya berupa etik, artistik, dan logika," jelasnya.
Kontributor: Miftakhul Jannah

1 jam yang lalu
2





English (US) ·
Indonesian (ID) ·