Di balik penguatan rupiah dan IHSG

1 jam yang lalu 1
Setelah berbulan-bulan didominasi kekhawatiran, perhatian investor mulai bergeser pada prospek jangka panjang yang disampaikan pemerintah secara langsung. Bukan dari pemberitaan media, atau konferensi pers, tapi disampaikan langsung oleh pucuk pimpin

Jakarta (ANTARA) - Rupiah mencapai titik terlemahnya dalam lebih dari seperempat abad pada penutupan perdagangan 8 Juni 2026. Nilai tukar mata uang Indonesia itu menembus level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat dan ditutup di posisi Rp18.188 per dolar AS, melampaui titik terendah yang tercatat saat krisis moneter 1998 yang berada di kisaran Rp16.850 per dolar AS.

Pada saat yang sama, pasar saham Indonesia juga berada di bawah tekanan berat. Setelah sempat mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah di level 9.174 pada Januari 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kehilangan hampir sepertiga nilainya hanya dalam hitungan bulan. Di antara bursa-bursa utama Asia, penurunan IHSG sejak awal tahun tercatat sebagai yang terdalam.

Tekanan awal memang datang dari luar negeri. Konflik di Timur Tengah yang mengancam jalur pelayaran energi melalui Selat Hormuz mendorong harga minyak dunia melonjak ke kisaran 93–94 dolar AS per barel, jauh di atas asumsi APBN 2026 sebesar 70 dolar AS. Pada saat yang sama, kebijakan suku bunga tinggi Amerika Serikat menjaga kekuatan dolar dan menarik kembali arus modal global ke berbagai aset berdenominasi dolar.

Namun, pasar tidak hanya bereaksi terhadap faktor eksternal. Pelemahan rupiah yang berlangsung lebih dalam dibandingkan mata uang sejumlah negara tetangga menunjukkan bahwa investor juga tengah mencermati risiko-risiko di dalam negeri.

Arus keluar modal adalah penyebab yang paling terang dari proses tersebut. Investor asing melepas saham dan obligasi pemerintah dalam jumlah besar, kemudian mengonversi dana mereka ke dolar AS sebelum dipindahkan ke pasar lain. Hingga awal Juni 2026, nilai net foreign outflow dari pasar saham Indonesia telah melampaui Rp61 triliun.

Situasi pelemahan IHSG sudah berat ketika MSCI (Morgan Stanley Capital International) mengeluarkan enam saham Indonesia dari indeks acuannya sekaligus membekukan penambahan emiten baru pada Januari 2026.

Tidak cukup sampai di situ, MSCI yang biasanya mengulas kembali rekomendasi saham Indonesia kepada para investor global pada bulan Mei, tidak melakukan itu sama sekali. Keputusan itu memaksa sejumlah manajer investasi global yang mengikuti indeks MSCI untuk menyesuaikan portofolionya dengan menjual saham-saham terkait tanpa memiliki ruang untuk melakukan rebalancing ke emiten Indonesia lainnya.

Pelemahan IHSG dan nilai tukar rupiah memicu respons cepat dari otoritas. Pada 9 Juni, Bank Indonesia (BI) mengambil langkah yang jarang dilakukan dengan menaikkan BI Rate di luar jadwal rapat reguler, dari 5,25 persen menjadi 5,50 persen. Dampaknya terlihat dalam dua hari berikutnya, ketika rupiah menguat kembali ke kisaran Rp17.800–Rp17.900 per dolar AS.

IHSG juga mencatatkan pemulihan lebih dari 10 persen, didorong oleh aksi buyback saham-saham perbankan BUMN yang dilakukan secara terkoordinasi. Langkah ini diambil melalui mekanisme darurat tanpa menunggu Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), berdasarkan arahan regulasi dari otoritas terkait.

Pemulihan tersebut terjadi setelah valuasi pasar Indonesia mengalami koreksi yang sangat dalam. CEO Danantara Rosan Roeslani menyebut harga saham domestik telah berada pada tingkat yang sangat murah setelah penurunan pasar mencapai hingga 40 persen dalam beberapa bulan terakhir.

Bagi investor jangka panjang, fase seperti ini sering kali mengubah cara pandang terhadap risiko. Ketika harga aset turun jauh lebih cepat dibanding perubahan fundamental ekonomi, perhatian pasar mulai bergeser dari potensi kerugian menuju peluang akumulasi.

Pandangan serupa disampaikan COO Danantara Dony Oskaria. Menurutnya, penguatan pasar yang mulai terlihat mencerminkan meningkatnya keyakinan investor terhadap prospek jangka panjang Indonesia yang masih ditopang fondasi ekonomi yang kuat.

Baca juga: Ekonom: Tren penguatan IHSG tergantung imbal hasil obligasi pemerintah

Baca juga: Pertemuan Danantara dan 122 investor global sukses pulihkan pasar

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Baca Artikel Selengkapnya