Jakarta (ANTARA) - Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet mengatakan kebijakan efisiensi anggaran perlu dipastikan tidak menghambat aktivitas ekonomi dan stagnasi penerimaan.
Yusuf saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Jumat, menuturkan pemerintah saat ini masih memiliki ruang yang cukup untuk menekan belanja, tetapi makin terbatas dan sangat ditentukan oleh kualitas efisiensinya.
“Dalam kondisi sekarang, indikasi efisiensi tidak lagi hanya mengurangi ‘lemak’, tetapi sudah mulai masuk ke ‘otot’, sehingga ruang untuk menekan belanja tanpa mengganggu ekonomi menjadi semakin sempit,” ujar Yusuf.
Secara umum, bila pemangkasan difokuskan pada belanja administratif atau program kementerian/lembaga (K/L) yang berdampak rendah maka pengaruh efisiensi anggaran terhadap aktivitas ekonomi relatif minimal.
Namun, ketika efisiensi mulai menyentuh belanja yang memiliki efek pengganda tinggi, termasuk sebagian program strategis dan belanja yang mendorong sektor riil, dampaknya bisa merambat ke pertumbuhan ekonomi.
Baca juga: CORE: Tambahan SAL Rp100 triliun jaga stabilitas sistem keuangan
Baca juga: CORE: Pemerintah perlu mitigasi tantangan ekonomi pascaLebaran
“Jika ekonomi tetap tumbuh cukup baik, penerimaan pajak tidak tertekan dan komposisi belanja bergeser ke sektor yang lebih produktif maka efisiensi bisa dikatakan berjalan efektif,” jelas Yusuf.
“Sebaliknya, jika pemangkasan belanja diikuti perlambatan aktivitas ekonomi dan stagnasi penerimaan, maka secara substansi kebijakan tersebut belum optimal karena justru melemahkan basis fiskal ke depan,” lanjutnya.
Yusuf mengamini kebijakan efisiensi anggaran mampu menahan tekanan dalam jangka pendek, termasuk untuk menjaga defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap terkendali.
Terlebih, bila kebijakan diterapkan pada awal tahun ketika penerimaan masih ditopang momentum musiman seperti Ramadhan dan Idul Fitri.
Namun, tantangan para periode berikutnya makin besar lantaran terdapat risiko pertumbuhan ekonomi ikut melambat ketika belanja ditekan. Pada akhirnya, pertumbuhan penerimaan pajak juga bisa tertahan.
Maka dari itu, Yusuf menyebut efisiensi belanja belum cukup untuk menjaga defisit tetap terkendali hingga akhir tahun, karena ada pertukaran antara penghematan belanja dan keberlanjutan basis penerimaan.
“Menjaga defisit tetap sehat membutuhkan kombinasi kebijakan, bukan hanya disiplin belanja, tetapi juga upaya menjaga aktivitas ekonomi tetap bergerak agar sisi penerimaan tidak ikut tergerus,” tuturnya.
Baca juga: CORE ungkap faktor lonjakan harga pangan jelang libur Lebaran
Baca juga: CORE: Pemerintah perlu perbaiki kebijakan BBM subsidi tepat sasaran
Pewarta: Imamatul Silfia
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.









English (US) ·
Indonesian (ID) ·