Bukan Lagi Predator Udara, ini Kelemahan MQ-9 Reaper Sehingga Jadi Sasaran Empuk Senjata Rusia-China

1 jam yang lalu 2

Drone MQ Reaper milik Amerika.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Dominasi teknologi militer Amerika Serikat di sektor drone tempur mulai menghadapi tantangan serius. Perkembangan sistem pertahanan udara dan peperangan elektronik dari negara pesaing mengubah lanskap perang modern secara signifikan.

Pesawat nirawak MQ-9 Reaper selama ini menjadi tulang punggung operasi militer AS. Drone ini digunakan untuk misi pengintaian hingga serangan presisi di berbagai kawasan konflik.

Namun, laporan terbaru menyebutkan efektivitas Reaper mulai dipertanyakan. Dalam konflik berintensitas tinggi, platform ini dinilai semakin rentan.

Majalah The National Interest menyoroti keterbatasan tersebut. Drone ini disebut tidak dirancang untuk menghadapi lawan dengan sistem pertahanan udara canggih, sebagaimana diberitakan RTVI.

MQ-9 Reaper awalnya dikembangkan untuk menghadapi musuh non-konvensional. Lingkungan operasi seperti Timur Tengah membuatnya sangat efektif dalam peran tersebut.

Dalam situasi tersebut, Reaper mampu melakukan pengawasan dan serangan dengan risiko minimal. Keunggulan ini menjadikannya simbol kekuatan teknologi militer AS.

Namun, kondisi berubah ketika berhadapan dengan negara seperti Rusia dan China. Kedua negara memiliki sistem pertahanan udara berlapis yang mampu mendeteksi dan menghancurkan drone.

Selain itu, kecepatan Reaper yang relatif rendah menjadi kelemahan. Jejak radar yang cukup besar juga memudahkan pelacakan oleh sistem musuh.

Kondisi ini membuat peran Reaper dalam perang modern diperkirakan akan menurun. Bahkan, nilainya dalam konflik berteknologi tinggi disebut bisa mendekati nol.

Pengalaman di lapangan semakin memperkuat analisis tersebut. Dalam konflik dengan Iran, sejumlah drone Reaper dilaporkan berhasil ditembak jatuh.

Baca Artikel Selengkapnya