Jakarta, CNN Indonesia --
Amerika Serikat dan Iran berbeda pendapat soal rencana inspeksi badan atom PBB, Badan Energi Atom Internasional (IAEA), ke situs nuklir Teheran.
Beda pendapat ini muncul meski AS dan Iran telah menyepakati perjanjian perundingan lanjutan di Swiss pada akhir pekan lalu untuk mengakhiri perang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Presiden AS Donald Trump mengeklaim Iran sepakat soal inspeksi IAEA ke situs nuklirnya. Dia bahkan mengancam tak akan melanjutkan negosiasi jika Teheran tak mengizinkan peninjauan itu.
"Iran sudah sepenuhnya dan secara menyeluruh untuk menyetujui inspeksi nuklir tingkat tertinggi. Ini akan menjamin Kejujuran Nuklir," kata Trump.
Dia lalu berujar, "Jika mereka tak menyepakati hal ini, tidak akan ada negosiasi lebih lanjut!"
Trump dan pejabat AS selalu menuding Iran berusaha menutup-nutupi program nuklir mereka dan membuat senjata nuklir. Teheran padahal berulang kali menegaskan program nuklir mereka untuk kepentingan sipil.
Sebelumnya, wakil presiden AS JD Vance juga mengatakan inspeksi pesediaan uranium yang diperkaya Iran kemungkinan akan dimulai pekan ini.
"Pihak Iran setuju untuk mengundang kembali inspektur IAEA ke negara mereka," kata Vance kepada awak media usai perundingan di resor Burgenstock, Swiss, Senin (22/6), dikutip AFP.
"Ini tonggak penting bagi rakyat Amerika dan langkah pertama dalam denuklirisasi permanen atau pengakhiran permanen program senjata nuklir di Iran," imbuh dia.
Lebih lanjut, Vance mengatakan inspeksi tersebut mencakup 450 kilogram uranium yang diperkaya.
Apa kata Iran?
Sementara itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei membantah pemerintah mengizinkan inspeksi IAEA meninjau fasilitas nuklir Iran.
Baghaei juga mengatakan Iran belum mengadakan pertemuan apa pun dengan Direktur Jenderal IAEA Rafael Grossi.
"Tak ada program inspeksi fasilitas nuklir yang rusak imbas agresi AS dan Israel," kata dia, dikutip Tasnim News Agency.
AS dan Iran menggelar negosiasi tak langsung di Burgenstock pada akhir pekan lalu sebagai tindak lanjut penandatangan nota kesepahaman (MOU) kedua negara.
MoU itu mencakup penghentian pertempuran di semua front, pembukaan kembali Selat Hormuz, pencabutan sanksi AS terhadap Iran hingga soal masa depan nuklir Iran.
Selain itu, MoU juga berisi negosiasi harus dilakukan dalam kurun waktu 60 hari setelah kesepakatan ditandatangani. Perjanjian ini diharapkan bisa menjadi kerangka untuk betul-betul mengakhiri perang.
(isa/rds)
Add
as a preferred source on Google

2 jam yang lalu
2







English (US) ·
Indonesian (ID) ·