Batas yang Perlu Dijaga Ketika Posting Keluarga di Media Sosial

1 jam yang lalu 3

Pamer kebahagiaan keluarga di media sosial dalam beberapa tahun terakhir menjadi tren baru yang kerap kita jumpai di layar gadget. Tren ini disebut public display of affection (PDA). Secara sederhana, tren ini merujuk pada fenomena sejumlah keluarga yang membagikan keharmonisan keluarganya secara masif di ruang publik, misalnya di media sosial. 

Tren ini dulu dianggap tabu, tapi sekarang menjadi tren baru yang kerap kita jumpai di media sosial. Motifnya pun bermacam-macam, mulai dari sekadar mencari validasi sosial hingga memang ingin berbagi tips-tips menjadi keluarga yang harmonis di tengah maraknya kasus perceraian di Indonesia. 

Meskipun membagikan keharmonisan dan kehangatan keluarga di media sosial menjadi tren baru hingga masyarakat menganggapnya bukan hal tabu lagi, untuk menyikapi pergeseran anggapan ini, kita tetap harus bijak; tidak keluar dari rambu-rambu syariat dan tetap menjaga etika agar harga diri keluarga terjaga serta batas privasi keluarga tetap aman. 

Menjaga Maru’ah Keluarga

Dalam Islam, kita kenal istilah muru’ah. Secara sederhana, istilah ini merujuk pada upaya menjaga harga diri atau marwah. Mari simak penjelasan Imam Al-Mawardi berikut:

فَالْمُرُوءَةُ مُرَاعَاةُ الْأَحْوَالِ الَّتِي تَكُونُ عَلَى أَفْضَلِهَا حَتَّى لَا يَظْهَرَ مِنْهَا قَبِيحٌ عَنْ قَصْدٍ وَلَا يَتَوَجَّهُ إلَيْهَا ذَمٌّ بِاسْتِحْقَاقٍ 

Artinya, “Muru’ah adalah menjaga tingkah laku agar tetap berada pada keadaan yang paling utama, supaya tidak melahirkan keburukan secara sengaja dan tidak berhak mendapat cacian.” (Imam Al-Mawardi, Adabud Dunya wad Din, [Daru Maktabah al-Hayat, t.t.], halaman 317).

Dalam konteks rumah tangga, muru'ah keluarga tetap harus terjaga, apalagi saat membagikan momen keharmonisan keluarga di media sosial yang bisa dilihat dari banyak sudut pandang sesuai dengan perspektif penonton. 

Ada dua poin penting yang tersirat dalam definisi muru'ah yang diuraikan oleh Imam Al-Mawardi ini jika kita kontekstualkan dalam pembahasan tren baru ini.

Pertama, dalam penerapannya, muru'ah berarti menjaga tingkah laku yang dapat mencemarkan citra baik keluarga. Artinya, aktivitas yang kita lakukan bersama keluarga, termasuk membagikan momen keharmonisan rumah tangga di media, harus kita kontrol dan tetap memerhatikan etika. 

Jangan sampai mengikuti algoritma media sosial yang terkadang menuntut untuk membagikan konten-konten yang kurang memerhatikan etika dan melampaui rambu-rambu syariat, seperti momen kemesraan yang mengandung unsur membuka aurat, yang secara tegas dilarang oleh syariat. 

Kedua, dampaknya juga harus diperhatikan. Sebenarnya, konten kemesraan yang kita bagikan biasa saja dan berada dalam koridor yang wajar, tapi ada dugaan kuat bahwa berdampak negatif, baik terhadap penonton maupun pada kita sebagai pembuat konten. Maka, sebaiknya juga kita hindari. 

Menjaga Keamanan Privasi Keluarga

Berikutnya, yang juga harus menjadi perhatian, adalah keamanan privasi keluarga. Hindari membagikan momen yang bersifat privasi meskipun mungkin kita anggap romantis dan sedang menjadi tren dan disukai algoritma. Sebab, privasi keluarga adalah amanah yang wajib dijaga oleh masing-masing pasangan. 

Hadits yang diriwayatkan Imam Muslim ini menjadi pengingat bagi kita bahwa aktivitas yang bersifat privat dan bernuansa intim tidak boleh kita sebarkan ke publik. Rasulullah SAW bersabda:

عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه أَنَّ رسولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قال إِنَّ من أعظمِ الأمانة عندَ الله يوم القيامةَ الرَّجُلُ يُفْضي إِلى امرأته وتُفْضي إِليه ثم ينشُرُ سِرَّها

Artinya, “Dari sahabat Abu Sa‘id Al-Khudri ra, Rasulullah saw bersabda, ‘Amanah terbesar di sisi Allah pada hari Kiamat adalah seseorang yang memperhatikan istrinya dan sebaliknya kemudian menyebarkan rahasia pasangannya,’” (HR Muslim).

Kemudian, ada dua hal yang perlu diingat saat kita memilih untuk mengikuti tren ini. Pertama, menjaga marwah keluarga dan melindungi privasi. Tidak semua momen dalam kehidupan rumah tangga perlu dibagikan ke publik. Meskipun menampilkan keharmonisan keluarga di media sosial kini bukan lagi hal yang tabu, kehati-hatian tetap diperlukan, karena semakin banyak hal privat yang kita bagikan, semakin besar pula risiko kebocoran data pribadi.

Kedua, bagi yang lebih suka menikmati konten-konten semacam ini sebagai penonton, jadikan ini sebagai inspirasi, ambil sisi baiknya, dan terapkan dalam kehidupan sehari-hari. 

Bagaimanapun, kita perlu menyadari bahwa apa yang ditampilkan di media sosial tidak selalu mencerminkan kenyataan. Tidak perlu membandingkan kehidupan keluarga kita dengan apa yang terlihat di layar. Wallahu a'lam.

Syifaul Qulub Amin, alumnus PP Nurul Cholil, sekarang aktif menjadi perumus LBM PP Nurul Cholil dan editor website PCNU Bangkalan.

Baca Artikel Selengkapnya