AS dan Iran Sepakat Gencatan Senjata, Netanyahu Tegaskan akan Lanjutkan Perang

1 minggu yang lalu 4

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyampaikan pidato di Knesset, parlemen Israel, di Yerusalem, 2 Februari 2026.

REPUBLIKA.CO.ID,  TEL AVIV -- Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu masih berhasrat melanjutkan perang melawan Iran. Hal itu diutarakan Netanyahu setelah Iran dan Amerika Serikat (AS) menyepakati gencatan senjata selama dua pekan. 

"Izinkan saya memperjelas: Kami masih memiliki tujuan yang harus diselesaikan, dan kami akan mencapainya—baik melalui kesepakatan atau melalui pertempuran yang diperbarui,” kata Netanyahu dalam pernyataan yang disiarkan televisi, Rabu (8/4/2026), dikutip laman Al Arabiya

Dia menambahkan, Israel siap untuk kembali berperang kapanpun diperlukan. "Jari kami tetap berada di pelatuk. Ini bukanlah akhir dari kampanye, tetapi sebuah langkah menuju pencapaian semua tujuan kami," ujar Netanyahu. 

Iran dan AS telah menyepakati gencatan senjata selama dua pekan pada Selasa (7/4/2026). Kesepakatan tersebut tercapai melalui mediasi yang ditengahi oleh Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif. 

Melalui kesepakatan tersebut, AS sepakat menghentikan serangannya terhadap Iran. Sebagai gantinya, Iran harus membuka akses Selat Hormuz. Keputusan Teheran membatasi secara ketat lalu lintas kapal melalui selat tersebut diketahui telah melambungkan harga minyak dunia.

Iran setuju untuk membuka Selat Hormuz selama masa gencatan senjata. Namun lalu lintas kapal di perairan tersebut tetap harus dikoordinasikan oleh militer Iran. 

Iran turut mengajukan 10 poin proposal gencatan senjata kepada AS. Isinya antara lain pencabutan sanksi dan pelepasan dana serta aset milik Iran yang dibekukan AS, pembayaran penuh kompensasi untuk biaya rekonstruksi akibat perang, dan penghentian total serangan, tidak hanya ke Iran, tapi juga Irak, Lebanon, serta Yaman. 

Menurut Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, kesepakatan gencata turut berlaku di Lebanon yang saat ini menjadi target agresi Israel. Namun Israel menolak hal tersebut dan masih terus melancarkan serangan ke Lebanon.

Baca Artikel Selengkapnya