Analisa Dunia tentang Iran: Pasar Raksasa Terakhir di Bumi yang Siap Meledakkan Ekonomi Global

2 minggu yang lalu 6

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Langit Timur Tengah tidak hanya dipenuhi suara dentuman, tetapi juga oleh gema kepentingan yang saling bersilang. Di balik setiap serangan dan balasan, tersembunyi narasi yang lebih dalam, tentang ambisi ekonomi, kekhawatiran global, hingga peringatan akan bahaya eskalasi yang tak terkendali.

Iran kini tidak sekadar menjadi arena konflik, melainkan titik temu dari berbagai kepentingan dunia yang sedang saling menguji arah.

Tulisan Saeed Ghasseminejad dan Shervin Pishevar di iranintl menawarkan sudut pandang yang berbeda, bahkan provokatif. Mereka melihat konflik Iran bukan hanya sebagai krisis, tetapi sebagai peluang strategis bagi Amerika Serikat.

Peluang Pasar Baru

“Iran adalah peluang pasar baru terbesar terakhir di dunia,” tulis mereka, seraya menambahkan bahwa Iran yang “bebas” dapat menghasilkan lebih dari 1 triliun dolar bagi perusahaan Amerika dalam satu dekade .

Dalam perspektif ini, perubahan rezim tidak semata isu politik, melainkan pintu masuk bagi integrasi ekonomi global. Iran digambarkan sebagai negara dengan fondasi industri kuat, populasi muda terdidik, serta posisi geografis strategis yang menghubungkan Eurasia.

Bahkan, mereka menyebut transformasi Iran berpotensi “mengubah Korea Utara di Timur Tengah menjadi Korea Selatan,” sebuah metafora yang menegaskan besarnya ekspektasi ekonomi yang dibayangkan.

Pemicu Krisis Ekonomi Global 

Namun, optimisme tersebut berbenturan dengan realitas yang jauh lebih kompleks. Adam Yousef dalam analisisnya di Anadolu justru menggambarkan konflik ini sebagai pemicu krisis ekonomi global yang berlapis.

Ia menekankan bahwa serangan terhadap fasilitas energi dan blokade Selat Hormuz telah mengguncang fondasi ekonomi dunia. “Bahkan pembukaan kembali Selat Hormuz mungkin tidak cukup untuk menurunkan harga,” tulisnya, karena kerusakan produksi dan ketidakpastian yang terus berlangsung.

Yousef memperingatkan munculnya ancaman stagflasi, kombinasi inflasi tinggi dan pertumbuhan ekonomi yang melambat, yang mengingatkan pada krisis 1970-an. Kenaikan harga energi tidak hanya berdampak pada negara maju, tetapi juga memperparah tekanan ekonomi di negara-negara berkembang. Dalam pandangannya, perang ini tidak berhenti di medan tempur, tetapi merembet ke dapur-dapur rumah tangga di seluruh dunia.

Baca Artikel Selengkapnya