Jakarta (ANTARA) - Pengamat pasar modal Elandry Pratama mengatakan tekanan terhadap fiskal dan pelemahan nilai tukar rupiah berpotensi meningkatkan volatilitas pasar saham Indonesia dalam jangka pendek, karena investor global menjadi lebih selektif terhadap aset berisiko.
Meski demikian, menurutnya, dampaknya tidak akan merata, yang mana saham-saham berbasis komoditas energi berpotensi mendapatkan sentimen positif dari kenaikan harga minyak.
“Namun dampaknya tidak merata. Emiten berbasis komoditas energi berpotensi mendapat sentimen positif dari kenaikan harga minyak, sementara sektor yang sensitif terhadap impor dan daya beli bisa menghadapi tekanan,” ujar Elandry saat dihubungi oleh Antara di Jakarta, Senin.
Dalam situasi seperti saat ini, ia mengatakan investor asing cenderung akan lebih berhati-hati, terutama apabila tekanan terhadap fiskal dan nilai tukar rupiah meningkat.
“Hal ini bisa mendorong sebagian investor global melakukan penyesuaian portofolio di pasar negara berkembang salah satunya Indonesia,” ujar Elandry.
Sementara itu, lanjutnya, investor domestik akan cenderung melihat kondisi secara lebih fundamental.
“Selama stabilitas ekonomi dan kredibilitas kebijakan fiskal tetap terjaga, minat investor domestik biasanya masih cukup kuat,” ujar Elandry.
Elandry menjelaskan, tekanan terhadap fiskal Indonesia saat ini meningkat seiring lonjakan harga minyak global serta pelemahan nilai tukar Rupiah.
Harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) tercatat di level 98,53 dolar AS per barel, sementara jenis Brent di level 105,60 dolar AS per barel, data perdagangan hari ini pukul 15.30 WIB.
“Kondisi ini berpotensi menambah beban subsidi dan kompensasi energi dalam APBN, karena asumsi harga minyak dalam anggaran jauh lebih rendah dari harga pasar,” ujar Elandry.
Di sisi lain, ia meyakini secara fundamental ruang fiskal Indonesia masih relatif terjaga seiring masih adanya berbagai opsi penyesuaian yang dimiliki oleh pemerintah.
“Pemerintah masih memiliki beberapa opsi penyesuaian melalui pengelolaan belanja, optimalisasi penerimaan negara, serta pengaturan subsidi energi yang lebih adaptif,” ujar Elandry.
Dalam kesempatan ini, ia menyatakan harapan dari investor, diantaranya pemerintah dapat menjaga kredibilitas fiskal di tengah tekanan global, terutama melalui disiplin pengelolaan defisit.
“Serta pengaturan subsidi energi yang lebih adaptif untuk menjaga kepercayaan investor terhadap stabilitas ekonomi Indonesia,” lanjut Elandry.
Sebagai informasi, data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) hari ini pukul 15.26 WIB, IHSG tercatat melemah 142,58 poin atau 2,00 persen ke posisi 6.994,63.
Baca juga: IHSG melemah seiring ekspektasi moneter ketat imbas konflik AS-Iran
Baca juga: OJK evaluasi Papan Pemantauan Khusus, opsi transparansi "bid-offer"
Baca juga: PGE kenalkan peluang investasi saham sektor energi bersih ke anak muda
Pewarta: Muhammad Heriyanto
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.









English (US) ·
Indonesian (ID) ·