Amerika Sibuk Perangi Iran, Rusia Diam-diam Menang di Karibia

3 minggu yang lalu 6

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di tengah panasnya konflik Timur Tengah, satu keputusan kecil di atas kertas tiba-tiba terasa seperti langkah besar di panggung geopolitik dunia. Amerika Serikat, yang selama berbulan-bulan mengetatkan blokade energi terhadap Kuba, justru membiarkan kapal tanker Rusia melintas tanpa hambatan, membawa ratusan ribu barel minyak ke negara yang tengah tercekik krisis.

Langkah ini, yang dilaporkan The New York Times, langsung memantik pertanyaan, apakah Washington mulai melunak, atau justru sedang memainkan kalkulasi yang lebih rumit di tengah konflik global yang kian memanas.

Kapal tanker Rusia yang membawa sekitar 730.000 barel minyak mentah itu diperkirakan berlabuh di terminal Matanzas, Kuba. Pasokan ini menjadi napas sementara bagi negara Karibia tersebut, yang selama ini menghadapi pemadaman listrik, kelangkaan bahan bakar, serta tekanan ekonomi yang kian memburuk akibat blokade energi Amerika.

Ironisnya, keputusan ini datang di tengah kebijakan keras Washington sebelumnya. Pada Januari, Amerika Serikat memberlakukan blokade minyak terhadap Kuba, bahkan mengusir kapal tanker yang hendak masuk. Namun kali ini, dua kapal patroli Penjaga Pantai AS yang berada di sekitar perairan Kuba memilih diam, tidak melakukan intersepsi.

Di balik sikap yang tampak kontradiktif ini, tersimpan kehati-hatian strategis. Washington dinilai berupaya menghindari konfrontasi langsung dengan Rusia, setidaknya untuk saat ini. Sebuah langkah yang menunjukkan bahwa konflik global saat ini tidak lagi hitam putih, melainkan penuh abu-abu, di mana tekanan dan kompromi berjalan beriringan.

Namun, di sisi lain, retorika politik Amerika tetap keras. Donald Trump dilaporkan tetap mendorong perubahan rezim di Kuba, bahkan mengisyaratkan kemungkinan penggunaan kekuatan militer setelah konflik di Iran mereda. Pernyataan ini memperlihatkan bahwa di balik manuver taktis, agenda strategis Washington tidak benar-benar berubah.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio juga menegaskan bahwa perubahan sistem pemerintahan Kuba menjadi syarat bagi reformasi ekonomi. Di sisi lain, Havana tidak tinggal diam. Wakil Menteri Luar Negeri Kuba, Carlos Fernandez de Cossio, menyatakan militernya dalam kondisi siap menghadapi kemungkinan agresi, meski tetap berharap konflik tidak terjadi.

Baca Artikel Selengkapnya