Jakarta (ANTARA) - Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) optimistis terhadap prospek pertumbuhan ekonomi nasional menjelang genap dua tahun Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, ditopang surplus perdagangan, pertumbuhan ekspor, serta peningkatan Nilai Tukar Petani (NTP).
"Berdasarkan capaian sampai dengan hari ini serta visi pemerintah ke depan, kita optimistis perdagangan dan investasi akan meningkat, dan perekonomian Indonesia semakin berkembang," kata Zulhas dalam keterangan resmi yang dikutip di Jakarta, Kamis.
Optimisme tersebut disampaikan Zulhas dalam rangkaian pembukaan Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 Tahun 2026 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Kabupaten Tangerang, Banten, Rabu (14/10).
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), neraca perdagangan Indonesia sepanjang Januari-Agustus 2026 mencatat surplus sebesar 7,25 miliar dolar Amerika Serikat (AS) atau sekitar Rp129,76 triliun.
Sementara itu, nilai ekspor mencapai 193,64 miliar dolar AS atau sekitar Rp3.465,77 triliun, meningkat 4,74 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Surplus perdagangan tersebut berasal dari surplus sektor nonmigas sebesar 28,54 miliar dolar AS atau sekitar Rp510,81 triliun, sedangkan sektor migas masih mengalami defisit sebesar 21,29 miliar dolar AS atau sekitar Rp381,05 triliun.
Di sisi pertumbuhan ekonomi, BPS mencatat perekonomian Indonesia pada semester I-2026 tumbuh 5,45 persen dibandingkan semester I-2025, menunjukkan pertumbuhan yang tetap positif di tengah ketidakpastian global.
Sementara itu, NTP nasional pada September 2026 mencapai 131,11 atau meningkat 1,49 persen dibandingkan Agustus 2026.
Kenaikan tersebut terjadi karena indeks harga yang diterima petani naik 1,93 persen, lebih tinggi dibandingkan kenaikan indeks harga yang dibayar petani sebesar 0,44 persen.
Sebagai perbandingan, BPS mencatat NTP nasional pada Oktober 2024 sebesar 120,70. Dengan demikian, NTP pada September 2026 berada di atas posisi pada bulan pertama pemerintahan Presiden Prabowo.
Zulhas menilai perkembangan indikator ekonomi tersebut perlu dijaga melalui peningkatan produktivitas dan nilai tambah produk dalam negeri, agar manfaat pertumbuhan ekonomi dapat dirasakan masyarakat secara lebih luas, termasuk petani, nelayan, dan pelaku usaha lokal.
"Penguatan ekspor penting untuk mendorong pertumbuhan, membuka lapangan kerja, dan meningkatkan pendapatan masyarakat.Di sektor pangan, kita perlu meningkatkan produktivitas dan nilai tambah agar peluang perdagangan ikut dirasakan petani, nelayan, serta pelaku usaha lokal," ujarnya.
Menurut dia, TEI menjadi sarana untuk mempertemukan produk dan jasa Indonesia dengan calon pembeli dari berbagai negara, sekaligus memperkuat keterlibatan pelaku usaha nasional dalam rantai pasok global.
Pemerintah mendorong eksportir memanfaatkan perjanjian perdagangan yang telah berlaku serta memperluas akses pasar nontradisional, antara lain Afrika, Amerika Latin, Asia Selatan, dan Eropa Timur.
Perluasan pasar tersebut juga dilakukan melalui peningkatan promosi oleh perwakilan Indonesia di luar negeri, disertai kemudahan prosedur ekspor dan dukungan pembiayaan bagi pelaku usaha.
Zulhas menekankan kerja sama perdagangan harus menghasilkan manfaat nyata bagi masyarakat.
Karena itu, kata dia lagi, pelaku usaha yang tengah berkembang perlu memperoleh dukungan agar mampu memenuhi permintaan pasar dan membangun hubungan dagang berkelanjutan.
Selain memperluas akses pasar, penguatan ekspor dinilai perlu berjalan seiring dengan hilirisasi untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam di dalam negeri, sekaligus membuka lapangan kerja dan memperkuat perekonomian daerah.
Pemerintah juga membuka peluang kerja sama dalam pengembangan investasi, transisi energi, dan teknologi digital sebagai bagian dari upaya memperkuat fondasi pertumbuhan ekonomi nasional.
Sementara itu, Menteri Perdagangan Budi Santoso menyampaikan sebanyak 168 nota kesepahaman antara eksportir Indonesia dan pembeli luar negeri senilai 13,2 miliar dolar AS atau sekitar Rp236,25 triliun telah ditandatangani pada hari pertama TEI 2026.
Nilai nota kesepahaman tersebut merupakan potensi transaksi perdagangan yang masih memerlukan tindak lanjut untuk menjadi realisasi ekspor.
Lebih lanjut, Zulhas mengajak peserta TEI menawarkan produk terbaik, memberikan pelayanan yang responsif, serta memastikan kesiapan produksi agar peluang transaksi dapat berkembang menjadi kerja sama perdagangan jangka panjang.
Baca juga: Belanda, India dan Jepang sumbang potensi transaksi terbesar di TEI
Baca juga: Mendag optimistis target transaksi TEI 17,5 miliar dolar AS tercapai
Pewarta: Aria Ananda
Editor: Budisantoso Budiman
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.







English (US) ·
Indonesian (ID) ·