Wapres Gibran Minta Maaf Saat Jenguk Korban Dugaan Keracunan MBG di Batang

1 jam yang lalu 2

Batang, NU Online Jateng 

Wakil Presiden (Wapres) Gibran Rakabuming mengunjungi sejumlah pasien terdampak dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Batang, Jawa Tengah, Senin (28/9/2026).

Dalam kunjungan tersebut, Wapres didampingi Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menyambangi pasien satu per satu di sejumlah fasilitas kesehatan. Keduanya berdialog dengan pasien dan keluarga untuk mengetahui kondisi terkini serta memastikan proses penanganan medis berjalan.

Berdasarkan data per Ahad (27/9/2026) pukul 07.00 WIB, sebanyak 700 penerima manfaat MBG di Batang tercatat mengalami gejala yang diduga berkaitan dengan kejadian tersebut. Sebagian besar telah diperbolehkan pulang dan menjalani rawat jalan, sementara 34 pasien masih menjalani perawatan di RSUD Batang, RSUD Limpung, dan Puskesmas Bawang.

“Prioritas pertama adalah kesehatan korban. Pasien yang masih dirawat harus mendapat pelayanan sampai pulih, sementara warga yang sudah pulang tetapi keluhannya kembali muncul harus tetap mudah mengakses pemeriksaan lanjutan,” tegas Gibran.

Salah satu pasien yang ditemui Wapres adalah Eka Maria Zulfa, guru SDN Pasusukan yang turut mencicipi makanan dalam program MBG. Saat dijenguk di Puskesmas Bawang, Eka mengaku masih mengalami sakit dan rasa melilit pada perut.

“Segera pulih, Bu. Kalau masih ada keluhan-keluhan dilaporkan ke sini ya. Obat-obat yang sudah diberikan dikonsumsi ya,” pesan Gibran.

Wapres juga menyampaikan permohonan maaf atas kejadian tersebut dan meminta pasien beristirahat hingga kondisinya benar-benar pulih.

“Saya minta maaf ya, Bu, atas kejadian ini. Jenengan istirahat dulu, pastikan benar-benar sehat,” tuturnya.

Selain memastikan penanganan medis, Gibran menegaskan keluarga korban tidak boleh terbebani biaya pengobatan. Pemerintah, kata dia, akan memastikan seluruh biaya perawatan ditanggung melalui mekanisme penjaminan yang berlaku.

“Biaya perawatan korban tidak boleh membebani keluarga. Pemerintah bertanggung jawab dan akan menanggung semua biaya pengobatan dan memastikan mekanismenya berjalan di semua fasilitas kesehatan,” imbuhnya.

Ia meminta jajaran terkait mengawasi langsung proses penanganan medis sekaligus memastikan penjaminan biaya berjalan di setiap fasilitas kesehatan. Para korban juga diminta tidak dipulangkan sebelum kondisi kesehatan dinyatakan pulih dan memungkinkan untuk menjalani perawatan lanjutan di rumah.

“Pastikan penjaminan biaya benar-benar berjalan di lapangan. Jangan sampai ada keluarga yang tetap diminta menanggung biaya pemeriksaan, obat, dan diminta pulang lebih awal walau belum benar-benar pulih,” pungkasnya.

Dalam kunjungan itu, turut hadir Bupati Batang M Faiz Kurniawan beserta jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Jawa Tengah dan Kabupaten Batang.

Penyebab Masih Ditelusuri

Sementara itu, pemerintah masih melakukan penelusuran untuk memastikan penyebab munculnya gejala pada penerima manfaat MBG. Pemeriksaan dilakukan terhadap sampel makanan, air, bahan makanan, serta spesimen pasien.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah Zulfachmi Wahab mengatakan penanganan kasus tersebut dilakukan sesuai standar operasional yang telah disiapkan untuk pelaksanaan MBG di Jawa Tengah, di bawah koordinasi Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin.

Menurutnya, evaluasi terhadap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menjadi bagian penting dalam penanganan kejadian tersebut. Evaluasi mencakup ketersediaan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS), inspeksi kesehatan lingkungan (IKL), hingga pelatihan bagi penjamah makanan.

“SPPG-nya harus dievaluasi, ketersediaan SLHS, sudah pernah ada inspeksi IKL, dan kursus pada penjamah makanan yang bekerja di sana,” kata Zulfachmi.

Ia menjelaskan, begitu muncul dugaan keracunan, puskesmas terdekat langsung mendatangi lokasi terdampak dan SPPG. Petugas kemudian mengambil sejumlah sampel untuk diperiksa di laboratorium.

Pemeriksaan meliputi sampel makanan dan air, serta spesimen pasien seperti muntahan dan feses, khususnya bagi pasien yang mengalami diare. Petugas juga melakukan inspeksi sanitasi lingkungan, memeriksa dokumen, penggunaan alat pelindung diri, serta peralatan kerja di SPPG.

“Sampel airnya, makanan dan bahan makanan yang disajikan. Kalau ada muntahan, kita periksa pula muntahannya,” ujarnya.

Zulfachmi menyebut para penjamah makanan pada umumnya telah mendapatkan pelatihan terkait pengolahan makanan dan pencegahan keracunan. Namun, penyebab pasti kejadian di Batang masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium.

Selengkapnya klik di sini.

Baca Artikel Selengkapnya