Unggul Tipis, Netanyahu Ketakutan Partai Palestina Raup Banyak Suara

43 menit yang lalu 3

Jakarta, CNN Indonesia --

Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menuduh partai-partai oposisi berupaya mengandalkan dukungan partai-partai Palestina-Israel (atau biasa disebut partai Arab Israel) untuk membentuk pemerintahan.

Hal itu diutarakan ketika partainya yang berkuasa, Likud, terus kejar-kejaran suara dengan rival terberatnya, Partai Yashyar, pimpinan eks panglima militer Israel Gadi Eisenkot, dalam penghitungan cepat suara pemilihan umum Israel yang berlangsung pada Selasa (27/10).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Netanyahu menegaskan Israel tidak boleh terlena dengan partai oposisi dan membiarkan partai-partai Palestina-Israel memperbesar suaranya di parlemen. Menurutnya, Israel membutuhkan mayoritas "Zionis" yang bersatu.

Dikutip Al Jazeera, PM Netanyahu menegaskan Israel tidak seharusnya bergantung pada partai-partai Arab yang ia tuduh "menentang keberadaan kami".

Netanyahu juga menuduh lawan-lawan politiknya melemahkan posisi tentara Israel dan mengabdi pada kepentingan musuh-musuh Israel.

"Bagaimana mungkin kalian membentuk koalisi dengan mereka? Ini memalukan dan tidak seharusnya terjadi," ujarnya.

Saat ini, hasil hitung cepat sementara dan masih berlangsung mencatat Likud menyalip suara dan unggul tipis dari Yashar dengan perbandingan suara 52 persen dan 49 persen.

Sementara itu, partai-partai Arab di Israel diproyeksikan meraih 18 kursi di parlemen Israel, menurut hasil jajak pendapat saat pemungutan suara keluar (exit poll). Perolehan ini terjadi setelah tingkat partisipasi pemilih di kalangan warga Arab Israel melonjak ke level tertinggi dalam beberapa dekade terakhir.

Dikutip The Guardian, data exit poll dari pemungutan suara pada Selasa menunjukkan bahwa dua partai utama yang dipimpin warga Arab, Joint List dan Ra'am, diperkirakan akan menguasai jumlah kursi terbanyak sepanjang sejarah mereka di Knesset.
Parlemen Israel Knesset sendiri memiliki total 120 kursi.

Dari total sekitar 7,3 juta pemilih di Israel dalam pemilu kali ini, sebanyak 2,1 juta jiwa merupakan warga Arab Israel atau sekitar 20 persen dari populasi di negara Zionis itu.

Menurut laporan Channel 12 Israel pada Selasa, indikasi awal menunjukkan tingkat partisipasi pemilih di kalangan warga Arab Israel juga mencapai rekor sekitar 80 persen. Angka bersejarah ini melampaui rekor yang tercatat pada 1999.

Warga Arab Israel merupakan keturunan Palestina yang selamat dalam perang Arab-Israel pada 1948. Perang itu menjadi awal mula Israel terbentuk. Lebih dari 700 ribu warga Palestina terusir dari wilayah mereka yang kini diduduki Israel.

Mereka yang terusir kemudian menetap di sebelah perbatasan Israel di Tepi Barat dan Gaza, maupun di kamp-kamp pengungsi di negara-negara sekitar.

Sedangkan yang bertahan di Israel menamakan diri mereka sebagai orang Arab Israel atau orang Palestina Israel. Mereka yang telah menetap di Israel pun mendapat kewarganegaraan Israel dan otomatis memiliki hak sebagai warga negara Zionis tersebut.

Hasil penghitungan suara resmi diperkirakan baru akan keluar dalam beberapa minggu ke depan. Namun, proses hitung cepat suara memang sudah bisa dilihat sejak pemungutan suara ditutup.

Meski penghitungan suara masih berlangsung, Netanyahu sudah mengeklaim kemenangan atas partainya. 

Ia mengatakan Likud merupakan partai terbesar di Israel. Ia menyerukan pembentukan "pemerintahan nasional sayap kanan".

Saat berbicara di hadapan para pendukungnya di Yerusalem, Netanyahu mengatakan hasil akhir pemilu diperkirakan akan diketahui dalam satu atau dua hari. Namun, menurutnya, ada dua hal yang sudah jelas.

"Apa yang kita lihat adalah bahwa Partai Likud merupakan partai terbesar dan tidak ada yang bisa menandingi kami. Hal kedua yang juga jelas adalah blok sayap kanan memiliki mayoritas. Dan mayoritas itu sangat meyakinkan," kata Netanyahu.

"Kita perlu membentuk pemerintahan nasional sayap kanan," paparnya lagi.

Netanyahu dan koalisi sayap kanannya juga sudah mewanti-wanti pendukungnya mengenai jumlah pemilih di kalangan warga Palestina di Israel yang meningkat. Sejumlah politikus Arab mengecam pendekatan tersebut karena dinilai rasis dan provokatif.

Netanyahu turut mengunggah pernyataan di media sosial mengenai antrean panjang pemilih di tempat pemungutan suara di komunitas Arab. Ia juga menyebarkan gambar yang diklaim memperlihatkan warga Arab, termasuk perempuan bercadar niqab, sedang menunggu giliran untuk memilih.

"Jika kita tidak segera sadar, kita akan mendapati diri kita memiliki pemerintahan Mansour Abbas dan Ahmad Tibi," kata Netanyahu, merujuk pada dua pemimpin partai Arab Israel di Knesset.

Netanyahu juga menuduh sejumlah stasiun televisi Israel berupaya menghalangi para pendukungnya untuk memberikan suara dengan menayangkan proyeksi hasil yang menunjukkan keunggulan partai-partai oposisi.

Jika Likud memenangkan pemilihan umum Israel ini, Netanyahu kemungkinan akan bertahan sebagai perdana menteri dan menandai kekuasaannya di Israel yang telah berlangsung hampir dua dekade.

(rds)

Baca Artikel Selengkapnya