Trump dan Netanyahu Kalah Pemilu, Pejabat Keamanan Iran Temui Putin

38 menit yang lalu 4

Jakarta, CNN Indonesia --

Partai Republik yang mendukung Presiden Amerika Serikat Donald Trump kehilangan suara mayoritas.

Sementara Partai Likud pimpinan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, juga tidak lagi berkuasa. Kedua sekutu itu hanya tinggal menjalankan sisa pemerintahan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sementara Iran, yang selama ini dijadikan musuh bersama oleh AS dan Israel justru sedang menjalin kerjasama pertahanan dengan Rusia.

Presiden Rusia Vladimir Putin bertemu dengan Sekretaris Keamanan Tertinggi Iran Mohsen Rezaei di Kremlin, seperti dilaporkan media pemerintah Iran pada hari Kamis (5/11), setelah para negosiator Iran bertemu dengan mediator untuk membahas proposal mengakhiri permusuhan dengan AS.

Rezaei menyampaikan pesan dari Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei kepada Putin, kata media pemerintah. Kantor Putin juga mengatakan keduanya bertemu di Kremlin.

[Gambas:Video CNN]

"Masalah-masalah regional penting dibahas dengan Putin, dan percakapan penting terjadi mengenai periode pasca-perang dan pengaturan keamanan regional," kata Rezaei setelah pertemuan tersebut, merujuk pada perang antara Iran dan AS.

Rezaei mengatakan diskusi tersebut juga berfokus pada pembangunan jalur pipa gas dari Rusia ke Iran, yang bertujuan untuk mengatasi kekurangan gas Iran dan memungkinkan Rusia untuk menjual gasnya ke negara-negara tetangga Iran.

Khamenei mengatakan dalam pernyataan tertulis pada hari Rabu bahwa seharusnya tidak ada "sedikit pun kecenderungan untuk tunduk" kepada Amerika Serikat, dikutip Arab News.

Upaya perdamaian telah difokuskan pada status masa depan Selat Hormuz yang strategis, blokade AS terhadap pelabuhan Iran, sanksi terhadap Republik Islam Iran, dan dimulainya kembali negosiasi mengenai program nuklir Teheran.

Seorang pejabat senior Iran mengatakan pekan ini bahwa kedua pihak masih sangat berbeda pendapat.

"Namun, kami telah mengatakan kepadanya bahwa dalam masalah diplomasi, kami telah mengumumkan tujuh syarat kepada Amerika, selama mereka tidak melaksanakan tujuh syarat kami, kami tidak akan membuka Selat Hormuz maupun melakukan negosiasi," tambah Rezaei.

(imf/bac)

Baca Artikel Selengkapnya