JAKARTA – Sebuah operasi iklan digital yang menyebarkan narasi anti Muslim dan anti imigran di lebih dari 30 negara diduga terkait dengan sejumlah entitas berbasis Israel. Kampanye tersebut diperkirakan menghabiskan dana sekitar 8 juta dolar AS dan meraih 800 juta penayangan.
Dilansir dari Al Mayadeen, laporan penelitian Marc Owen Jones dan Sohan Dsouza yang pertama kali diberitakan surat kabar The National mengungkap operasi tersebut berlangsung sejak Oktober 2023 hingga Oktober 2026. Iklan disebarkan melalui sejumlah platform, termasuk Facebook, YouTube, dan TikTok.
Para peneliti menemukan kampanye tersebut menggunakan Perusahaan perantara di Vietnam dan Brasil untuk menyamarkan pihak yang berada di balik aktivitas periklanan. Konten yang disebarkan bertujuan membangun santimen negatif terhadap Muslim, imigran, Qatar, dan Iran.
Salah satu narasi yang digunakan Adalah teori konspirasi great perlacement atau penggantian besar besaran. Teori ekstrem kanan tersebut mengklaim bahwa populasi kulit putih eropa sengaja digantikan oleh kelompok non kulit putih, khususnya Muslim, melalui migrasi dan perubahan demografi. klaim tersebut tidak memiliki dasar bukti yang dapat dipercaya.
Materi iklan dibuat menggunakan gambar dan music berbasi kecerdasan buatan (AI), potongan video demonstrasi, hingga parodi pemain video. Sejumlah konten menggunakan slogan seperti “Ini adalah sebuah invasi” dan “Qatar mengislamkan eropa” untuk membangun kekuatan terhadap kehadiran Muslim dan imigran.
Meski demikian, peneliti menegaskan pihaknya belum dapat memastikan bahwa pemerintah Israel secara langsung bertanggung jawab atas operasi tersebut. Temuan peneliti hanya menunjukan bahwa entitas dibalik kampanye memiliki basis di Israel dan keterkaitan dengan operasi pengaruh yang dijalankan pemerintah Israel.
sumber : Mg-167

18 jam yang lalu
3





English (US) ·
Indonesian (ID) ·