Jakarta, CNN Indonesia --
Seorang petugas Immigration and Customs Enforcement (ICE) Amerika Serikat menembak dan melukai seorang pria di Austin, Texas, pada Minggu (20/9) waktu setempat. Korban mengalami luka serius, namun dalam kondisi stabil.
Dilansir Reuters, pria itu tertembak di bagian tubuhnya dan dilarikan ke rumah sakit. Agen ICE menembaknya saat pengejaran sekitar pukul 13.00 siang waktu setempat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pengacara imigrasi Kate Lincoln-Goldfinch mengidentifikasi korban sebagai Wilber Rafael Garces Perez berusia 28 tahun. Dia mengatakan Perez telah keluar dari rumah sakit dan berada dalam tahanan ICE.
Perez adalah imigran tanpa dokumen resmi asal Venezuela. Namun Lincoln-Goldfinch memastikan kliennya masuk ke AS secara legal. ICE maupun Departemen Dalam Negeri (DHS) belum memberikan komentar terkait insiden ini.
Penembakan ini merupakan kejadian terbaru dalam serangkaian insiden yang melibatkan ICE, selaku badan yang menjadi "wajah" kebijakan penerbitan imigrasi pemerintah Presiden Donald Trump. ICE juga baru-baru ini mulai menahan banyak orang di Austin.
"Baru beberapa minggu yang lalu, saat kami melihat peningkatan ICE di Austin, khususnya di wilayah Austin bagian utara-tengah. Saya dan pihak lain mengatakan ICE harus pergi sebelum ada orang yang tertembak," kata politisi Demokrat dari Texas, Greg Casar.
Sementara itu para pegiat hak asasi menyatakan tindakan keras imigrasi federal di bawah pemerintahan Trump juga telah melanggar hak kebebasan berpendapat dan hak atas proses hukum yang adil.
Selama ini Trump membela tindakan kerasnya terhadap imigran, dengan mengatakan ia bertujuan meningkatkan keamanan di dalam negeri.
Petugas ICE telah terlibat sejumlah insiden penembakan tahun ini. Sebelumnya dua warga AS di Minnesota tewas ditembak petugas imigrasi federal.
Selain itu lebih dari 50 orang telah meninggal dunia dalam tahanan ICE sejak Trump menjabat tahun lalu.
(dna)

53 menit yang lalu
1





English (US) ·
Indonesian (ID) ·