'Teknologi Pintar', Kunci Sukses Thailand Majukan Pertanian

1 jam yang lalu 2

Jakarta, CNN Indonesia --

Beras asal Thailand sudah lama dikenal karena kualitasnya. Sebagai makanan pokok masyarakat Asia, kebutuhan beras tidak pernah surut.

Tidak heran bila Thailand dikenal sebagai "Land of Rice", karena peran beras yang sangat besar dalam ekonomi, budaya, serta kehidupan sehari-hari masyarakat negara tersebut.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kondisi geografisnya yang memiliki dataran rendah luas, tanah subur, serta sistem irigasi yang berkembang membuat negara ini sangat cocok untuk budidaya padi.

Sebagian besar wilayah pedesaan Thailand dipenuhi oleh hamparan sawah. Pertanian padi telah menjadi sektor penting yang menopang kehidupan jutaan petani di negara itu.

Produksi beras nasional mencapai puluhan juta ton setiap tahun dan menjadi salah satu komoditas pertanian utama. Salah satunya pengekspor beras premium terbesar, seperti beras Jasmine.

Bukan hanya itu, negeri Gajah Putih ini juga dikenal dengan komoditas pertanian seperti durian dan manggis. Dominasi ekkspor durian Thailand menguasai lebih dari setengah pangsa pasar ekspor durian global.

Pengiriman durian Thailand bahkan telah menembus angka lebih dari 1,1 juta ton dalam satu tahun, dengan China sebagai tujuan pasar utamanya.

Begitu pula dengan manggis, Thailand mengekspor lebih dari 250.000 ton manggis setiap tahunnya, yang mencakup porsi terbesar di pasar global. Tujuan utama pasar manggis Thailand adalah China (90).

Manggis Thailand dikenal memiliki ukuran buah yang besar, kulit yang tipis, dan rasa yang manis.

Kunci sukses

Menurut Direktur Jenderal Departemen Penyuluhan Pertanian Thailand, Peerapan Korthong, pertanian cerdas memainkan peran penting dalam mentransformasi efisiensi pertanian pada tahun 2026, dengan menggunakan sejumlah perangkat teknologi seperti Sensor IoT (Internet of Things), drone citra satelit, dan kecerdasan buatan (AI).

Alat-alat ini akan mengurangi biaya dan kebutuhan tenaga kerja-meskipun penerapannya harus mempertimbangkan kesesuaian tanaman dan kemampuan finansial petani.

Teknologi pertanian pintar bernilai USD 18-19 miliar pada tahun 2024 dan diperkirakan akan hampir berlipat ganda pada tahun 2033.

Perangkat IoT di bidang pertanian tumbuh 7-10 persen setiap tahunnya, dan diperkirakan akan melampaui USD 50 miliar sebelum tahun 2030. Penggunaan AI di bidang pertanian meningkat lebih dari 20 persen per tahun.

Menurut Korthong, strategi pertanian 2026-2027 meliputi mengubah petugas penyuluh pertanian menjadi pelatih teknologi dan keuangan, membuat standar dan sertifikasi untuk penyedia layanan teknologi, meningkatkan keterampilan petani dan petugas dalam penggunaan alat digital dan AI, menghubungkan pertanian cerdas dengan pertanian ramah iklim dan bernilai tinggi.

(bac/imf/bac)

Baca Artikel Selengkapnya