Teheran Bersiap, AS-Israel Rencanakan Serangan Besar-Besaran

1 jam yang lalu 1

REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN – Iran disebut meyakini bahwa segala skenario menunjukkan AS dan Israel sedang bersiap menghadapi perang skala penu. Ini membuat Iran tidak memiliki pilihan selain menggunakan "bahasa kekuatan".

Menurut akademisi Mostafa Khoshcheshm, pilihan terbaik yang dimiliki Iran adalah menaikkan harga minyak mentah guna memengaruhi hasil pemilihan umum sela mendatang di AS.

"Agar hal itu terwujud, Iran meyakini mereka harus menutup Selat Hormuz untuk sementara waktu—setidaknya selama beberapa bulan," ujarnya dikutip Aljazirah, Senin.

Dalam pandangan Iran, Trump hanya memahami "bahasa kekuatan" karena AS tidak pernah mematuhi nota kesepahaman (MoU) Islamabad. Netanyahu kemungkinan besar akan kembali menempuh opsi militer terhadap Iran karena posisinya sedang "lemah" menjelang pemilihan umum Israel, tambah sang profesor.

Pada Ahad, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan hanya ada beberapa pilihan yang tersedia bagi Washington dalam menghadapi perang dengan Iran. Hal itu disampaikan Trump dalam wawancara dengan Fox News.

Trump menyebut opsi yang tersedia adalah “menghancurkan Iran, membiarkannya membusuk secara ekonomi, atau mencapai kesepakatan”.

Trump juga melontarkan pernyataan bernada ancaman terhadap Iran. “Pertanyaan saya adalah kapan—dan apakah—saya akan meledakkan seluruh Iran. Mereka sebaiknya bersikap baik,” ujar Trump, sebagaimana dikutip dalam wawancara tersebut.

Di sisi lain, Trump mengatakan dirinya terbuka terhadap kemungkinan bertemu dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian di sela-sela Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang berlangsung pekan ini.

Trump juga mengatakan situasi pada pekan ini tidak berbeda dengan pekan-pekan sebelumnya di Timur Tengah, meskipun AS telah mengeluarkan peringatan kepada warga negaranya di berbagai wilayah di kawasan tersebut.

Terkait kelompok Houthi di Yaman, Trump mengatakan Amerika Serikat terus melakukan komunikasi dengan kelompok tersebut. Menurut dia, Houthi telah menyepakati untuk tidak berperang melawan AS.

Dalam wawancara itu, Trump juga menyebut sejumlah pejabat Iran sedang “bersembunyi seperti tikus”. Ia mengatakan sulit menemukan pihak yang dianggap mampu mencapai kesepakatan dengan AS.

Pernyataan Trump tersebut disampaikan di tengah ketegangan yang terus berlangsung antara AS dan Iran. Ancaman penggunaan kekuatan militer sekaligus tawaran untuk mencapai kesepakatan menunjukkan adanya dua pendekatan yang disebut Trump dalam menghadapi Tehran.

Kedutaan besar virtual AS untuk Iran telah mengeluarkan peringatan keamanan yang mengimbau seluruh warga negara untuk tidak bepergian ke Iran "dengan alasan apa pun" dan agar segera meninggalkan negara tersebut.

Dalam pernyataan yang dimuat di situs webnya, kedutaan tersebut menyatakan bahwa "kelompok Houthi yang didukung Iran telah melakukan tindakan permusuhan terhadap Arab Saudi, termasuk serangan terhadap bandara sipil. Konflik militer ini berpotensi meningkat dengan cepat."

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyatakan bahwa negaranya harus berjuang sekaligus bernegosiasi, seraya menambahkan bahwa Selat Hormuz akan tetap ditutup hingga syarat-syarat Iran dipenuhi.

"Di ranah diplomasi pun, posisi kami sangat jelas, rasional, dan tidak dapat ditawar. Pesan serta syarat-syarat kami telah disampaikan secara tegas kepada pihak lawan melalui perantara, dan pihak musuh sangat memahami bahwa jalan tipu daya serta pemaksaan kehendak secara sepihak sudah tertutup.

"Selama syarat-syarat tersebut belum dipenuhi, hak-hak mutlak bangsa Iran belum diakui, dan pihak Amerika belum menepati komitmen mereka, maka tidak ada kemungkinan untuk kembali ke kerangka negosiasi sebelumnya ataupun membuka kembali Selat Hormuz."

Baca Artikel Selengkapnya