Jakarta, NU Online
Aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda meningkat sehingga statusnya naik dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) mulai Jumat (9/10/2026) pukul 21.00 WIB.
Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Lana Saria mengatakan, kenaikan status tersebut diputuskan setelah dilakukan analisis dan evaluasi menyeluruh terhadap aktivitas Gunung Anak Krakatau.
“Berdasarkan hasil analisis dan evaluasi secara menyeluruh, maka tingkat aktivitas Gunungapi Anak Krakatau dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) terhitung mulai tanggal 9 Oktober 2026 pukul 21.00 WIB,” ujarnya dalam keterangan yang diterima NU Online, Sabtu (10/10/2026).
Lana menjelaskan, Gunung Anak Krakatau mengalami 14 kali erupsi pada periode 6-9 Oktober 2026. Peningkatan aktivitas tersebut mulai terpantau sejak awal Oktober berdasarkan hasil analisis dan evaluasi aktivitas gunung api.
Ia menyampaikan, pengamatan kegempaan vulkanik selama periode 21 September hingga 9 Oktober 2026 belum menunjukkan peningkatan signifikan. Frekuensi rata-rata gempa yang berkaitan dengan aktivitas vulkanik tercatat kurang dari lima kali per hari.
“Data Real-time Seismic Amplitude Measurement (RSAM) dan tiltmeter juga belum menunjukkan gejala peningkatan aktivitas yang signifikan,” katanya.
Badan Geologi mengimbau masyarakat yang tinggal di sekitar Gunung Anak Krakatau, serta pengunjung, wisatawan, dan pendaki, untuk tidak melakukan aktivitas dalam radius lima kilometer dari pusat erupsi.
“Masyarakat di sekitar Gunung Anak Krakatau serta pengunjung, wisatawan, dan pendaki dilarang memasuki maupun melakukan aktivitas dalam radius lima kilometer dari pusat erupsi Gunung Anak Krakatau,” ujar Lana.
Selain itu, masyarakat dilarang memasuki wilayah dalam radius satu kilometer dari pulau baru yang berada di sektor barat laut dan tenggara Gunung Anak Krakatau.
Lana juga meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bahaya lontaran batu pijar, hujan abu lebat, aliran lava, serta erupsi sekunder akibat kontak panas lava dengan air laut maupun air hujan.
Di tengah kenaikan status tersebut, ia meminta masyarakat di wilayah pesisir Banten dan Lampung tetap tenang serta tidak mudah percaya terhadap informasi yang menyebutkan bahwa erupsi Gunung Anak Krakatau akan memicu tsunami.
“Masyarakat di wilayah pantai Provinsi Banten dan Lampung harap tenang dan jangan mempercayai isu-isu tentang erupsi Gunungapi Anak Krakatau yang akan menyebabkan tsunami,” kata Lana.
Lana mengatakan, masyarakat tetap dapat beraktivitas seperti biasa dengan mengikuti arahan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat.

3 jam yang lalu
1



English (US) ·
Indonesian (ID) ·