Setelah Gaza, Israel Kini Terang-Terangan Bertekad Caplok Lebanon Selatan

1 jam yang lalu 2

REPUBLIKA.CO.ID, BEIRUT – Aksi perluasan wilayah Israel secara ilegal terus menjadi-jadi. Setelah enggan mundur dari Jalur Gaza, militer Israel kini bertekad tak akan pergi dari Lebanon selatan dan dataran tinggi Golan di Suriah.

“IDF akan tetap berada di zona keamanan di Lebanon, Suriah, dan Gaza untuk melindungi seluruh Negara Israel,” kata Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz saat mengunjungi Lebanon selatan pada Rabu seperti dilansir the Times of Israel.

Ia mengatakan telah menginstruksikan IDF untuk mengambil semua langkah yang diperlukan guna mempersiapkan kehadiran jangka panjang di wilayah tersebut. “Sebagaimana telah ditegaskan secara gamblang oleh saya dan perdana menteri, kami tidak akan menarik diri dari zona keamanan ini.”

Katz juga kembali membanggakan tindakan “menghancurkan semua rumah” di wilayah-wilayah tertentu, setelah bulan lalu ia memuji keberhasilan perataan puluhan desa di Lebanon selatan secara sistematis—yang menurutnya memuat infrastruktur Hizbullah. Komentar-komentar tersebut memicu tuduhan kejahatan perang terhadap Katz, yang telah meningkatkan retorikanya menjelang pemilihan umum.

Sementara, Perdana Menteri Lebanon Nawaf Salam mengatakan bahwa "serangan, penyusupan, pembongkaran, dan penghancuran sistematis terhadap rumah-rumah," infrastruktur, gedung pemerintah, dan tempat ibadah yang dilakukan Israel "merupakan pelanggaran serius terhadap prinsip dan aturan hukum internasional serta hukum humaniter internasional." 

"Klaim bahwa desa dan kota 'sepenuhnya merupakan fasilitas militer' tidak masuk akal dan tidak dapat dijadikan alasan untuk menghancurkannya, menggusur penduduknya, serta mencegah mereka untuk kembali," ujarnya dalam sebuah pernyataan.

Aksi militer Israel ke Lebanon tahun ini telah menewaskan lebih dari 4.000 jiwa. Aksi itu dimulai setelah kelompok syiah Hizbullah di Lebanon melakukan balasan atas pembunuhan yang dilakukan Israel dan AS terhadap Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei di Teheran pada Februari.

Belakangan, penghentian agresi di Lebanon jadi syarat gencatan senjata yang diajukan Iran. Artinya, keberadaan pasukan Zionis di Lebanon selatan bakal memperumit perundingan damai AS-Iran. 

Pemerintahan Presiden AS Donald Trump mengkritik Katz karena pernyataannya bahwa Israel akan tetap berada di Lebanon selatan itu. Pernyataan tersebut dinilai bertentangan dengan jaminan pihak Israel sebelumnya bahwa mereka tidak memiliki ambisi wilayah di negara tersebut.

"AS mengharapkan semua pihak untuk bertindak sesuai dengan kerangka kerja yang telah disepakati, dan Israel telah menyatakan dengan jelas bahwa mereka tidak memiliki ambisi wilayah di Lebanon," ujar seorang pejabat Departemen Luar Negeri dalam sebuah pernyataan.

AS menegaskan kehadiran militer permanen di Lebanon selatan tidak sejalan dengan komitmen yang tertuang dalam kerangka kerja tersebut ataupun dengan perdamaian dan keamanan jangka panjang bagi kedua negara.

“Amerika Serikat sepenuhnya mendukung integritas wilayah dan kedaulatan Lebanon,” lanjut pejabat Departemen Luar Negeri tersebut. Ia mencatat bahwa kesepakatan kerangka kerja yang ditengahi Washington antara Israel dan Lebanon “secara jelas mencakup jalur berbasis syarat untuk penempatan ulang secara bertahap yang dikaitkan dengan pelucutan senjata Hizbullah yang terverifikasi serta pembongkaran infrastruktur mereka.”

“Angkatan Bersenjata Lebanon sedang melaksanakan tahap pertama di zona percontohan, dan Amerika Serikat akan terus mendukung pelaksanaan penuh proses tersebut,” merujuk pada wilayah di Lebanon selatan tempat IDF telah menarik diri dan digantikan oleh pasukan Angkatan Bersenjata Lebanon (LAF).

Baca Artikel Selengkapnya