Sejarah Houthi, Kelompok Milisi yang Diyakini dari Klan Keturunan Nabi

1 jam yang lalu 2

Jakarta, CNN Indonesia --

Perang di Timur Tengah semakin tak terkendali setelah milisi Houthi menyerang Arab Saudi.

Kelompok perlawanan yang berbasis di Yaman itu, kini benar-benar merepotkan setelah mereka memblokade maritim di Bab Al Mandab yang merupakan jalur perdagangan penting di sana.

Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, menyatakan bahwa blokade ini bertujuan mencegah Arab Saudi menggunakan jalur pelayaran strategis di Laut Merah untuk mengekspor energi dan komoditas.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pemerintahan Yaman pun haru minta bantuan ke Amerika Serikat. Kepala badan pemerintahan Yaman, Rashad Al Alimi, disebut melakukan pembicaraan telepon dengan Presiden Donald Trump untuk meminta dukungan Amerika Serikat melawan Houthi.

Namun menurut sumber dari kantor Alimi kepada AFP, Trump tidak menjanjikan dukungan militer untuk Yaman. Permintaan Yaman ini terjadi setelah Houthi meluncurkan serangan ke ibu kota Riyadh Saudi pada Sabtu (19/9).

Percakapan yang berlangsung pada Minggu (20/9) sebagai tanda bahwa pemerintah Yaman sedang terdesak, setelah Houthi menguasai seluruh pesisir Laut Merah dalam sebuah serangan.

Siapa mereka?

Milisi Houthi telah berperang dengan pemerintah Yaman sejak tahun 2004. Dalam setiap pertempuran, peralatan mereka semakin canggih dengan kemampuan tempur yang terus diperbaiki.

Menurut Michael Knights, peneliti senior di Program Militer dan Keamanan di The Washington Institute for Near East Policy, setelah tahun 2010, mereka bermetamorfosis menjadi entitas militer paling kuat di negara itu, merebut tiga kota terbesar di Yaman. Houthi dengan cepat menguasai senjata canggih yang belum pernah mereka kendalikan sebelumnya, termasuk banyak yang berasal dari Iran.

[Gambas:Video CNN]

Knights yang sudah mengunjungi sejumlah wilayah yang dikuasai Houthi, menulis di situs militer West Point tentang awal mula mereka menjadi kelompok militan yang ambisius, dapat merebut dan menggunakan persenjataan negara serta mendapat manfaat dari dukungan Iran.

Gerakan Houthi tidak hanya merujuk pada keluarga Houthi (sebuah klan dari Pegunungan Marran di provinsi Sa'ada), tetapi juga pada aliansi kesukuan dan sektarian yang lebih luas dan beroperasi terutama di Yaman utara.

Klan Houthi diyakini punya garis keturunan Nabi Muhammad, dan sosok modern mereka adalah seorang ulama yang dihormati, Badr Al Din Al Huthi, seorang pendakwah berpengaruh hingga kematiannya pada tahun 2010.

Keluarga Houthi adalah penganut Islam Syiah Zaidi, yang doktrin paling dekat dengan Muslim Syiah Lima Imam (berbeda dengan Syiah Dua Belas Imam yang lebih umum di Iran, Irak, dan Lebanon).

Kelompok Houthi menjadi terkenal setelah jatuhnya imamat Zaidi (1962 M) dan pada saat Revolusi Islam di Iran dan pertumbuhan salafisme yang didukung Saudi di Yaman utara.

Pada tahun 1980-an, kelompok ini mulai aktif untuk kebangkitan, terutama oleh Badr Al Din Al Huthi dan dilanjutkan oleh putra-putranya yang terkemuka, Hussein, Yahya, Mohammed, dan Abdulmalik.

Kebangkitan kelompok ini sebagian bersifat revolusioner sosial dan politik. Pada tahun 1990-an, Badr al-Din al-Huthi dan putra-putranya membangun jaringan sosial yang kuat dan lintas sektoral di sekitar gerakan kebangkitan Zaidi yang mencakup perkawinan campur dengan keluarga suku, hingga membuatperkemahan musim panas dan program sosial "Pemuda Beriman" (Muntada al-Shahabal-Mu'min), dan sebuah partai politik.

Gerakan mereka semakin menarik perhatian karena menyasar isu-isu korupsi yang mewabah di tubuh pemerintahan serta semakin dekatnya pemerintah Yaman dengan Amerika Serikat dan Arab Saudi.

Mereka menjadi lebih vokal dalam isu-isu luar negeri dan perbatasan sejak tahun 2000 dan seterusnya, mengucilkan sekutu utama Yaman yaitu Arab Saudi dan AS, dan berisiko bentrok dengan pemerintah.

Pada tahun 2000, gerakan tersebut memanfaatkan kecenderungan anti Barat tradisional dan ketakutan akan dominasi asing di Yaman utara, khususnya penanganan sengketa perbatasan oleh Arab Saudi.

Dengan cepat mereka memiliki slogan menentang tindakan keamanan Israel dan Barat di dunia Arab, mengecam intervensi militer AS di Afghanistan, Yaman, dan Irak.

Pada akhir 2000, gerakan Houthi mengadopsi slogannya, "teriakan" (al-shi'ar): "Matilah Amerika, Matilah Israel, Kutukan bagi orang Yahudi, Kemenangan bagi Islam."

Kritik eksplisit terhadap kerja sama kontra-terorisme AS-Yaman oleh Houthi merupakan penyebab langsung dimulainya permusuhan oleh pemerintah Yaman pada Juni 2004.

Ideologi

Kelompok Houthi menganut Zaidisme, cabang Islam Syiah yang meyakini bahwa kepemimpinan spiritual dan duniawi harus dipegang oleh keturunan Nabi Muhammad, dan berkembang sebagai cabang militan dan radikal dari gerakan kebangkitan Zaidisme, seperti ditulis laman Middle East Institute.

Ideologi kelompok ini bersumber dari tradisi Islam tentang akhir zaman, termasuk hadits yang merujuk pada peran Yaman di dalamnya. Mereka juga mempercayai bahwa pembebasan Yerusalem sebagai kewajiban agama.

Kelompok Houthi percaya bahwa perang di Gaza telah membawa hal ini lebih dekat pada pemenuhannya dan telah menggunakannya sebagai alat perekrutan serta pembenaran untuk serangan mereka di Laut Merah.

Kelompok ini juga dipengaruhi oleh bentuk pemerintahan yang didirikan oleh Ayatollah Ruhollah Khomeini di Iran setelah revolusi 1979, meskipun ada beberapa perbedaan antara kedua sekte Syiah tersebut.

Meskipun demikian, tujuan awal Houthi untuk membangun kendali atas Yaman dan menyebarkan doktrin Zaidisme, yang terhambat oleh perpecahan internal dan perang saudara selama bertahun-tahun, dibayangi oleh hubungan kelompok tersebut dengan Iran dan serangan terhadap Israel serta aset pelayaran Laut Merah sebagai bentuk solidaritas dengan Palestina.

Bersambung ke halaman berikutnya...

Baca Artikel Selengkapnya