Rupiah melemah dipengaruhi ancaman serangan militer AS terhadap Iran

44 menit yang lalu 4
Rupiah ditutup melemah terhadap dolar AS di tengah DXY, yield UST dan harga minyak mentah dunia yang kembali naik oleh ancaman serangan militer AS terhadap Iran

Jakarta (ANTARA) - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada pembukaan perdagangan Kamis, bergerak melemah 28 poin atau 0,16 persen menjadi Rp17.915 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.866 per dolar AS

Analis Doo Financial Lukman Leong menyatakan pelemahan rupiah dipicu ancaman serangan militer AS terhadap Iran.

“Rupiah ditutup melemah terhadap dolar AS di tengah DXY, yield UST dan harga minyak mentah dunia yang kembali naik oleh ancaman serangan militer AS terhadap Iran,” ucapnya kepada ANTARA di Jakarta, Kamis.

Mengutip Sputnik, pemerintah AS dilaporkan meminta Departemen Perang menyiapkan sejumlah opsi serangan terhadap Iran menjelang pemilu paruh waktu Kongres pada November.

Mengutip dua pejabat pemerintahan, The Atlantic melaporkan bahwa Komando Pusat AS (CENTCOM) sedang menyusun rencana tersebut, namun belum ada keputusan final mengenai kemungkinan serangan. Pembahasan mengenai cakupan dan tujuan serangan potensial juga masih berlangsung.

Laporan itu menyatakan langkah tersebut mencerminkan keinginan Presiden AS Donald Trump untuk menurunkan harga bensin dan mencapai kemajuan dalam konflik sebelum pemilu paruh waktu.

Pelemahan rupiah juga dipengaruhi rilis indeks kepercayaan konsumen bulan September 2026 yang turut menurun dibandingkan bulan sebelumnya

“Data yang menunjukkan penurunan pada indeks kepercayaan konsumen Indonesia dari 118,5 ke 118,1 ikut membebani rupiah,” kata Lukman.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak melemah ke level Rp17.890 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.880 per dolar AS.

Baca juga: Rupiah pada Kamis pagi menguat jadi Rp17.871 per dolar AS

Baca juga: Rupiah menguat seiring investor "wait and see" risalah pertemuan FOMC

Pewarta: M Baqir Idrus Alatas
Editor: Ahmad Wijaya
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Baca Artikel Selengkapnya