Pusat Data AI Jadi Target Empuk Iran, Bisa Bikin AS 'Babak Belur'

3 jam yang lalu 5

Jakarta, CNN Indonesia --

Iran mulai menjadikan Pusat Data Akal Imitasi (AI) Amerika Serikat di negara-negara Timur Tengah sebagai sasaran empuk dalam rencana serangan mereka.

Perang atrisi Teheran terhadap AS secara ekonomi mulai menguak penderitaan Washington.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Iran telah mengarahkan serangan-serangannya yang cukup efektif ke kilang minyak, kegiatan ekspor minyak, dan objek wisata negara-negara tetangganya. Serangan itu pun mulai enimbulkan kekacauan ekonomi di negara-negara Teluk dan negara-negara yang berbisnis dengan mereka.

Pusat-pusat data AI di negara-negara Teluk juga tak luput dalam serangan sporadis Teheran. Infrastruktur yang menjadi sasaran tersebut merupakan teknologi paling penting bagi masa depan ekonomi global.

Iran telah membombardir beberapa pusat data negara-negara tetangganya, dan Amerika Serikat menanggapi dengan menyerang salah satu pusat data Iran.

Pusat data AI telah lama menjadi sasaran serangan siber, tetapi serangan fisik merupakan hal unik di 2026, dikutip dari CNN.

Ini adalah merupakan sebuah perhitungan bagi Washington yang menganggap AI sebagai hal penting bagi keamanan nasional dan pertumbuhan ekonomi mereka, termasuk bagi industri yang telah sepenuhnya berinvestasi dalam membangun pusat data mahal di seluruh dunia.

Iran dan AS saling serang pusat data AI di negara-negara AS. Terbaru, Iran menyerang pusat data milik perusahaan Amazon di Bahrain, akhir bulan lalu.

Amazon menolak berkomentar, tetapi dashboard Amazon Web Services (AWS) menunjukkan gangguan di wilayah tersebut sejak serangan awal pada 30 April terhadap pusat data tersebut, dan citra satelit menunjukkan kerusakan yang luas pada fasilitas AWS.

Pada awal perang, Iran menegaskan bahwa mereka mengincar pusat data sebagai target militer yang sah. IRGC menerbitkan daftar 29 target teknologi regional yang direncanakan untuk diserang, termasuk situs milik Amazon, Google, Microsoft, Nvidia, dan Palantir.

Dalam unggahan Telegram setelah serangan 21 Juli terhadap pusat data Amazon, Teheran menyatakan mereka menyerang fasilitas itu lagi karena Amazon adalah penyedia layanan cloud untuk upaya intelijen militer AS.

Amazon memegang banyak kontrak pemerintah AS, termasuk bagian dari proyek Joint Warfighting Cloud Capability senilai US$9 miliar. Google, Microsoft, dan Oracle juga merupakan bagian dari proyek tersebut.

Pusat data di kawasan ini penting bukan hanya bagi militer AS dan industri AI, tetapi juga bagi kawasan Teluk, yang menganggap dirinya sebagai pusat AI global ketiga, bersama dengan Amerika Serikat dan Tiongkok.

Arab Saudi telah mengalokasikan sebagian besar dana kekayaan negaranya sebesar US$1 triliun untuk AI, dan UEA menandatangani kesepakatan penting dengan pemerintahan Trump tahun lalu untuk membangun Stargate, pusat data AI senilai US$500 miliar, proyek terbesar di luar Amerika Serikat. OpenAI, Oracle, Nvidia, dan Cisco semuanya bermitra dalam proyek tersebut.

(bac)

[Gambas:Video CNN]

Baca Artikel Selengkapnya