REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pemerintahan baru Hungaria menghadapi ancaman krisis energi terbesar sejak berakhirnya kekuasaan Viktor Orban. Rekor penyusutan permukaan Sungai Danube memaksa tiga dari empat reaktor Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Paks berhenti beroperasi, menyisakan hanya satu turbin dengan produksi 240 megawatt.
Kapasitas itu hanya sekitar 12 persen dari kemampuan normal PLTN Paks sebesar 2.000 megawatt. Jika air Danube kembali menyusut, pembangkit nuklir satu-satunya milik Hungaria tersebut dapat berhenti total untuk pertama kalinya sejak mulai beroperasi pada 1982.
Ancaman itu datang pada saat yang paling buruk. Gelombang panas ekstrem mendorong penggunaan pendingin udara dan menaikkan konsumsi listrik, sementara kekeringan berkepanjangan justru mengurangi air yang dibutuhkan untuk mendinginkan reaktor.
Permukaan Danube di Budapest pada Senin (3/8/2026) tercatat hanya sekitar 10 sentimeter. Angka itu jauh di bawah rekor terendah sebelumnya, yakni 33 sentimeter pada 2018. Hujan dalam jumlah berarti juga belum diperkirakan turun dalam beberapa hari mendatang, sedangkan suhu di kawasan itu diproyeksikan menembus 38 derajat Celsius.
Kondisi tersebut menempatkan Perdana Menteri Péter Magyar pada ujian politik besar pertamanya, kurang dari tiga bulan setelah resmi memimpin Hungaria.
Magyar dilantik pada 9 Mei 2026 setelah Partai Tisza memenangi pemilu 12 April secara telak. Tisza meraih 53,18 persen suara dan menguasai 141 dari 199 kursi parlemen, sekaligus mengakhiri pemerintahan Viktor Orbán dan Fidesz yang telah berlangsung selama 16 tahun.
Kini, kemenangan besar itu berhadapan dengan kenyataan yang jauh lebih keras: apakah pemerintah baru dapat menjaga listrik tetap menyala ketika sumber energi utama negara nyaris lumpuh.
Separuh Listrik Hungaria Terancam
PLTN Paks memiliki posisi sangat strategis dalam sistem energi Hungaria. Pembangkit yang berada sekitar 90 kilometer di selatan Budapest itu menghasilkan hampir separuh produksi listrik nasional dan memenuhi sekitar sepertiga konsumsi listrik negara tersebut.
Hilangnya sebagian besar produksi Paks membuat pemerintah harus menutup kekurangan pasokan melalui pembangkit lain, energi terbarukan, dan impor dari negara-negara tetangga. Namun, kemampuan impor juga bergantung pada kapasitas jaringan listrik lintas batas serta kondisi pasar energi Eropa yang sedang tertekan.
Pemerintah memperingatkan Paks dapat berhenti beroperasi selama beberapa pekan apabila permukaan Danube tidak segera pulih. Krisis tersebut diperkirakan menelan biaya tambahan antara 100 miliar hingga 200 miliar forint, atau sekitar 315 juta hingga 630 juta dolar AS, terutama akibat melonjaknya harga listrik impor.
Pada Senin, Magyar mengatakan para teknisi masih mampu mempertahankan satu turbin terakhir. Namun, ia menegaskan keberhasilan itu hanya memberikan waktu tambahan yang sangat terbatas.
“Ini kabar yang sangat baik karena penghentian total pembangkit masih dapat dihindari untuk sementara,” kata Magyar, sebagaimana diberitakan Reuters, Senin (3/8/2026).
Kalimat Magyar sekaligus menunjukkan betapa rapuhnya kondisi jaringan listrik Hungaria. Satu perubahan kecil pada tinggi muka air Danube dapat menentukan apakah Paks tetap menghasilkan listrik atau berhenti sepenuhnya.

3 jam yang lalu
2







English (US) ·
Indonesian (ID) ·