Pergerakan rupiah dipengaruhi ekspektasi pengetatan kebijakan Fed

57 menit yang lalu 1

Jakarta (ANTARA) - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada pembukaan perdagangan Jumat, bergerak melemah 17 poin atau 0,09 persen menjadi Rp17.933 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.916 per dolar AS.

Chief Economist Permata Bank Josua Pardede menilai pergerakan rupiah dipengaruhi peningkatan ekspektasi pengetatan kebijakan Federal Reserve (The Fed).

“Data PMI (Purchasing Managers' Index) AS yang lebih kuat dari perkiraan secara signifikan meningkatkan ekspektasi pasar terhadap pengetatan kebijakan The Fed lebih lanjut, dengan pasar kini memperhitungkan potensi kenaikan suku bunga hingga 50 bps (basis points) sepanjang sisa 2026,” ucapnya kepada ANTARA di Jakarta, Jumat.

Data Flash PMI AS September menunjukkan aktivitas bisnis tumbuh cukup kuat, dengan Composite PMI naik menjadi 58,4 dari 56,0 pada Agustus dan menjadi level tertinggi sejak Juli 2021

Pasar kemudian meningkatkan ekspektasi terhadap pengetatan kebijakan The Fed lebih lanjut tahun ini, dengan harga pasar kini mengimplikasikan probabilitas hampir 64 persen untuk kenaikan suku bunga sebesar 25 bps pada Oktober 2026. Pernyataan hawkish dari sejumlah pejabat The Fed baru-baru ini turut memperkuat ekspektasi tersebut.

Sementara itu, lanjut Josua, kenaikan harga minyak lebih dari 1 persen turut menambah tekanan terhadap rupiah di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap inflasi global dan risiko geopolitik.

“Kenaikan harga minyak di tengah berlanjutnya ketegangan AS–Iran semakin meningkatkan kekhawatiran terhadap prospek inflasi. Upaya diplomatik di sela-sela Sidang Umum PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) masih menunjukkan kemajuan yang terbatas dalam menyelesaikan konflik tersebut, sementara harga diesel AS mencapai rekor tertinggi baru, yang semakin memperkuat tekanan kenaikan inflasi terkait energi,” ujar dia.

Berdasarkan faktor-faktor tersebut, rupiah diperkirakan bergerak dalam kisaran Rp17.875-Rp17.975 per dolar AS.

Baca juga: BI masih cetak rupiah bertanda tangan eks Menkeu-Gubernur BI

Baca juga: BI optimalkan seluruh instrumen moneter untuk perkuat rupiah

Baca juga: Ekonom nilai BI tak perlu naikkan bunga untuk stabilkan rupiah

Pewarta: M Baqir Idrus Alatas
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Baca Artikel Selengkapnya