REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Perang Iran mulai menciptakan tekanan serius terhadap pasokan bahan bakar penerbangan Eropa. Benua itu diproyeksikan menghadapi kekurangan bahan bakar pesawat sekitar 510 ribu barel per hari pada triwulan IV 2026 setelah konflik mengganggu pasokan dari Timur Tengah dan memangkas sekitar separuh impor bahan bakar pesawat Eropa.
Angka tersebut merupakan proyeksi konsultan energi Energy Aspects yang dikutip Reuters, bukan jumlah bahan bakar yang telah hilang dari pasar saat ini. Proyeksi itu menggambarkan kesenjangan antara kebutuhan dan pasokan bahan bakar pesawat Eropa sepanjang Oktober hingga Desember apabila pola perdagangan dan gangguan pasokan saat ini berlanjut.
Situasi Eropa berbanding terbalik dengan kawasan lain. Energy Aspects memperkirakan Asia-Pasifik justru memiliki kelebihan pasokan bahan bakar pesawat sekitar 419 ribu barel per hari pada triwulan IV, sedangkan Amerika Serikat diproyeksikan memiliki kelebihan sekitar 18 ribu barel per hari.
Ketimpangan itu kini mengubah peta perdagangan bahan bakar penerbangan dunia. Bahan bakar pesawat yang sebelumnya tidak perlu menempuh perjalanan jauh kini bergerak dari Korea Selatan, Nigeria, Amerika Serikat, dan Kanada menuju terminal-terminal penyimpanan di Eropa.
Perang yang berlangsung lebih dari enam bulan telah mengganggu pasokan Timur Tengah dan memutus sekitar separuh impor bahan bakar pesawat Eropa, menurut Reuters. Dawn Pakistan dan Sunday Guardian Live juga mengangkat proyeksi kekurangan 510 ribu barel per hari tersebut sebagai ancaman utama terhadap pasokan bahan bakar penerbangan Eropa pada akhir tahun.
Separuh Impor Terpangkas
Bahan bakar pesawat merupakan bagian dari kelompok produk minyak yang disebut distilat menengah, bersama bahan bakar diesel dan minyak gas. Pasarnya sangat bergantung pada kilang, jalur pelayaran, ketersediaan kapal pengangkut, serta kemampuan pedagang memindahkan produk dari kawasan yang memiliki kelebihan pasokan menuju wilayah yang mengalami kekurangan.
Sebelum perang mengubah arus perdagangan, Eropa memperoleh bagian penting impor bahan bakar pesawat dari kilang-kilang Timur Tengah. Gangguan akibat konflik kemudian membuat volume tersebut menyusut drastis dan memaksa para pedagang mencari pemasok yang lokasinya jauh dari pasar Eropa.
Tekanan itu bukan hanya persoalan jumlah bahan bakar. Semakin panjang perjalanan sebuah muatan, semakin besar pula biaya pengiriman, kebutuhan kapal, serta risiko gangguan yang harus ditanggung sebelum bahan bakar akhirnya mencapai bandara-bandara Eropa.
Perbedaan harga antara pasar Asia dan Eropa kini membuat perjalanan jauh tersebut tetap menguntungkan. James Noel-Beswick, kepala komoditas Sparta Commodities, mengatakan pasokan impor Eropa diperkirakan terus berlanjut selama benua tersebut masih kekurangan bahan bakar pesawat.
“Dengan Eropa diperkirakan tetap kekurangan bahan bakar pesawat, impor kawasan itu akan terus berlanjut,” kata Noel-Beswick.
Bahan Bakar Datang dari Korea Selatan
Salah satu perubahan paling mencolok terjadi pada jalur Korea Selatan-Eropa. Data perusahaan informasi komoditas Kpler menunjukkan impor bahan bakar pesawat Eropa dari Korea Selatan pada September mencapai sekitar 129 ribu barel per hari, tingkat tertinggi sejak Oktober 2022.
Data LSEG menunjukkan angka yang hampir sama. Lonjakan tersebut menjadikan Korea Selatan salah satu sumber pasokan baru yang penting bagi Eropa ketika bahan bakar dari pemasok tradisional di Timur Tengah semakin sulit diperoleh.
Kemampuan Korea Selatan mengirim lebih banyak bahan bakar ditopang peningkatan produksi kilangnya. Produksi bahan bakar pesawat Korea Selatan pada Juli mencapai hampir 13,89 juta barel, tingkat bulanan tertinggi dalam tujuh tahun.
Aktivitas pengolahan minyak mentah di kilang-kilang Korea Selatan juga meningkat. Data sementara pemerintah yang dikutip Reuters menunjukkan volume pengolahan minyak mentah di kilang pada Juli mencapai 2,7 juta barel per hari atau melonjak 16 persen dibandingkan Juni.
Kelebihan pasokan di Asia kini menemukan pasar yang sangat membutuhkan di Eropa. Bahan bakar yang dihasilkan ribuan kilometer dari bandara-bandara Eropa akhirnya menjadi salah satu penyangga agar kesenjangan pasokan tidak berubah menjadi krisis yang lebih parah.

53 menit yang lalu
1






English (US) ·
Indonesian (ID) ·