Jakarta, CNN Indonesia --
Amerika Serikat (AS) bakal meminta puluhan negara memilih kubu dalam persaingan kecerdasan buatan (AI) dengan China.
Washington memperingatkan negara yang bergabung dengan kerangka kerja AI bentukan Beijing dapat dikeluarkan dari koalisi AI yang dipimpin AS.
Rencana tersebut tertuang dalam draf surat internal Departemen Luar Negeri AS yang ditinjau Reuters serta dikonfirmasi seorang pejabat AS.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Surat itu ditujukan kepada 35 negara penandatangan "AI Opportunity Statement" pada Juni, yang mencakup anggota kerangka Pax Silica dan negara lain yang menyatakan ingin menyelaraskan kerja sama AI dengan Washington.
AS meluncurkan Pax Silica tahun lalu untuk mengamankan rantai pasok model AI, semikonduktor, dan mineral kritis di tengah persaingan teknologi dengan China.
Sekitar dua lusin negara telah bergabung, termasuk Jepang, Australia, Korea Selatan, serta Kazakhstan.
Kazakhstan menjadi sorotan karena juga telah bergabung dengan koalisi AI bentukan China.
"Dengan menjadi bagian dari semuanya, berarti tidak menjadi bagian dari apa pun. Penandatanganan Deklarasi Pax Silica bukan sekadar keanggotaan, tetapi sebuah komitmen," demikian bunyi draf surat tersebut, dikutip dari Reuters, Sabtu (15/8).
"Keanggotaan ini tidak dapat berjalan berdampingan dengan keanggotaan dalam inisiatif duplikatif yang ekspektasinya bertentangan dengan ekspektasi kami," lanjut surat tersebut.
Draf tersebut tidak secara eksplisit menyebut China. Reuters juga belum dapat memastikan kapan surat itu akan dikirim atau apakah isinya masih akan diubah.
Departemen Luar Negeri AS menolak berkomentar mengenai dokumen internal yang diduga bocor tersebut.
Kedutaan Besar China dan Kazakhstan di Washington juga belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar Reuters.
Pada Juli, Presiden China Xi Jinping meluncurkan World Artificial Intelligence Cooperation Organization sebagai kerangka kerja tandingan.
China mempromosikan teknologi AI open-weight miliknya sebagai alternatif terhadap pengaruh AS dalam industri tersebut.
Kazakhstan sejauh ini menjadi satu-satunya negara yang diketahui bergabung dengan kedua inisiatif tersebut. Kondisi itu lantas memicu kekhawatiran di Washington.
Seorang pejabat AS mengatakan surat tersebut disusun untuk menegaskan bahwa negara mitra "tidak bisa mendapatkan keduanya sekaligus".
"Sulit melihat bagaimana sebuah negara dapat secara kredibel memosisikan dirinya sebagai mitra tepercaya dalam satu ekosistem teknologi, sementara pada saat yang sama bergabung dengan inisiatif yang dirancang China untuk mendorong visi AI yang bersaing," kata pejabat tersebut.
Pax Silica diarahkan untuk mendorong sekutu dan mitra AS menjalankan proyek bersama serta kontrol ekspor.
Kerangka tersebut pada akhirnya ditujukan untuk mengurangi ketergantungan terhadap negara yang dianggap sebagai lawan dalam hal mineral kritis, model AI, dan chip semikonduktor.
Anggota Pax Silica juga mendapatkan akses terhadap peluang investasi bersama dalam proyek terkait AI.
Sementara penandatangan AI Opportunity Statement secara simbolis menyatakan memiliki "tujuan bersama" dan "visi bersama" dengan AS.
Lebih lanjut, AS berharap tekanan agar negara memilih kubu dapat membatasi akses China terhadap sumber daya yang dibutuhkan untuk mengembangkan AI paling canggih.
Persaingan AS-China semakin panas setelah model AI open-weight China berkembang cepat dan mulai mengejar sistem model tertutup dari perusahaan AS seperti OpenAI dan Anthropic.
Mineral kritis juga menjadi salah satu bagian penting dalam persaingan tersebut.
AS pada Juni memuji Kazakhstan sebagai negara pertama di Asia Tengah yang bergabung dengan Pax Silica karena memiliki cadangan mineral kritis dalam jumlah besar untuk menopang teknologi canggih.
Di sisi lain, China memiliki posisi dominan dalam sejumlah mineral kritis dan telah menggunakannya sebagai alat balasan dalam perang tarif dengan AS.
(lom)

1 jam yang lalu
2






English (US) ·
Indonesian (ID) ·