Jakarta, CNN Indonesia --
Seorang penyintas serangan bersenjata di sebuah gereja Ortodoks Yunani di Yordania mengaku melihat langsung pelaku penembakan yang menewaskan delapan orang dan melukai 40 lainnya. Salah satu pelaku bahkan sempat menodongkan pistol ke arahnya dari jarak sekitar dua meter.
Nasser al-Burqan, seorang pengacara, mengatakan suara tembakan awalnya terdengar seperti ledakan pendingin udara ketika ibadah doa baru dimulai pada Jumat (23/10). Namun, suara ledakan yang terus berulang membuatnya menyadari bahwa suara tersebut berasal dari tembakan senjata api.
Sejumlah jemaat berlarian menyelamatkan diri. Sementara itu, sebagian lainnya, termasuk mereka yang terluka, berusaha berlindung di dalam gereja. Saat itu, mereka tengah berkumpul untuk menghadiri pemakaman kerabat Burqan. Kabar mengenai korban jiwa mulai menyebar di antara jemaat yang berada di lokasi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setelah penembakan berhenti beberapa menit kemudian, Burqan melihat dua orang yang diduga sebagai pelaku dari jendela di belakangnya. Salah seorang di antara mereka mengenakan penutup wajah, sedangkan yang lain tidak.
"Ketika semuanya akhirnya tenang, saya melihat ke luar melalui jendela di belakang saya dan melihat dua orang. Salah satunya bertopeng, sementara yang lain tidak. Dia membawa pistol," kata Burqan, dikutip dari Reuters.
Burqan mengatakan salah satu pelaku berdiri sekitar dua meter darinya, kemudian mengarahkan pistol dan melepaskan tembakan. Pecahan kaca akibat tembakan mengenai wajahnya hingga menyebabkan darah mengalir. Meski demikian, ia mengaku baik-baik saja ketika sejumlah orang menawarkan untuk membawanya mendapatkan perawatan medis.
Anak Burqan turut menjadi korban
Tak lama setelah kejadian, Burqan menerima telepon dari putranya yang juga menghadiri ibadah di gereja tersebut. Putranya memberi tahu bahwa ia terkena tembakan di bagian kaki dan sedang menjalani perawatan di rumah sakit.
Serangan itu terjadi di Gereja Hamoud Ortodoks Yunani, wilayah Kegubernuran Karak, sekitar 120 kilometer di barat daya Amman, ibu kota Yordania. Peristiwa tersebut mengejutkan masyarakat setempat, terutama komunitas Kristen yang merupakan kelompok minoritas di negara itu.
Serangan semacam ini terbilang jarang terjadi di Yordania. Meski demikian, otoritas negara tersebut menyatakan telah berulang kali menggagalkan rencana serangan kelompok militan Islam dalam beberapa tahun terakhir.
Raja Yordania Abdullah II, yang menjalin kemitraan dengan Amerika Serikat dalam upaya memerangi kelompok militan Islam, mengunjungi Karak beberapa jam setelah serangan. Ia berjanji para pelaku akan mendapatkan hukuman tegas.
"Para pelaku akan dihukum dengan tangan besi," kata Abdullah.
Polisi masih memburu pelaku
Otoritas Yordania menyatakan masih memburu para pelaku penembakan. Penyelidikan juga masih berlangsung untuk memastikan apakah mereka memiliki hubungan dengan kelompok tertentu, baik di dalam maupun di luar Yordania. Hingga laporan tersebut disusun, belum ada kelompok yang mengaku bertanggung jawab atas serangan itu.
Kedutaan Besar Amerika Serikat di Amman mengatakan aparat meningkatkan pengamanan di sejumlah lokasi, termasuk pusat perbelanjaan, kedutaan asing, dan tempat-tempat lainnya di seluruh Yordania pada Sabtu (24/10).
Peningkatan pengamanan dilakukan ketika aparat terus mencari para pelaku yang menewaskan delapan orang dan melukai 40 orang dalam serangan tersebut. Pemerintah Yordania menyebut penembakan itu sebagai aksi terorisme ekstremis. Namun, motif serangan dan kemungkinan keterlibatan kelompok tertentu masih menunggu hasil penyelidikan lebih lanjut.
(tis/tis)

1 jam yang lalu
1






English (US) ·
Indonesian (ID) ·