Pentagon Akui Korban Perang Iran Lebih Besar, 21 Tentara AS Tewas, Biaya Rp780 T

1 jam yang lalu 2

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Departemen Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon) akhirnya mengoreksi jumlah personel militernya yang meninggal selama operasi perang melawan Iran menjadi 21 orang, lebih banyak dibandingkan angka yang sebelumnya diumumkan kepada publik. Koreksi tersebut muncul di tengah meningkatnya tekanan Kongres terhadap transparansi korban perang, ketika pengeluaran militer Amerika dalam konflik yang telah berlangsung lebih dari tujuh bulan diperkirakan mencapai 43,6 miliar dolar AS atau sekitar Rp779,82 triliun.

Pembaruan yang dilakukan Pentagon pada Jumat (9/10/2026) juga menunjukkan sedikitnya 865 personel militer Amerika mengalami luka-luka. Angka tersebut tercatat dalam Defense Casualty Analysis System (DCAS), basis data resmi Departemen Pertahanan yang menghimpun informasi mengenai personel militer yang meninggal maupun terluka dalam berbagai operasi militer.

The Washington Post pada Sabtu (10/10/2026) melaporkan bahwa Pentagon menambahkan dua kematian nonpertempuran ke dalam penghitungan resmi yang sebelumnya mencatat 19 personel meninggal. Pengakuan tersebut muncul setelah media Amerika itu menerbitkan investigasi pada September mengenai ketidaksesuaian antara jumlah korban yang diketahui sejumlah pejabat militer dan angka yang dipublikasikan pemerintah.

Koreksi itu menjadi perhatian karena Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth sebelumnya secara terbuka membantah laporan mengenai adanya korban militer yang belum tercatat. Ketika The Washington Post pertama kali mengungkap ketidaksesuaian data pada 18 September, Hegseth menyebut pemberitaan tersebut sebagai kabar palsu dan kebohongan.

Menurut laporan terbaru The Washington Post, dua personel yang baru dimasukkan dalam penghitungan merupakan anggota militer yang meninggal karena penyebab di luar pertempuran langsung. Keduanya bertugas di kawasan Timur Tengah selama berlangsungnya operasi Amerika terhadap Iran.

Personel pertama adalah Mayor Sorffly Davius, anggota Garda Nasional Angkatan Darat Amerika asal Queens, New York, yang meninggal di Kuwait pada 6 Maret 2026 dalam usia 46 tahun. Kematian Davius sebenarnya telah dilaporkan sebelumnya, tetapi belum dimasukkan dalam penghitungan resmi korban operasi terkait Iran.

Personel kedua merupakan anggota Angkatan Laut Amerika yang meninggal akibat bunuh diri pada September. Identitasnya tidak diungkap dalam laporan The Washington Post, sementara keterangan mengenai penyebab kematiannya diperoleh dari seorang pejabat Amerika yang meminta identitasnya dirahasiakan.

Pentagon juga memperbarui pencatatan seorang personel lain, Sersan Devin A. Seibel, yang meninggal akibat kecelakaan latihan militer di Irak pada Mei 2026 dalam usia 26 tahun. Namun, kematian Seibel tidak dimasukkan dalam 21 korban operasi terkait Iran karena secara administratif tercatat dalam Operation Inherent Resolve, yakni operasi militer Amerika untuk memerangi kelompok ISIS.

Dengan demikian, jumlah resmi personel yang meninggal dalam operasi terkait perang Iran mencapai 21 orang, sedangkan total kematian personel Amerika di kawasan Timur Tengah sejak perang dimulai pada 28 Februari mencapai 22 orang apabila kematian Seibel turut dihitung. Perbedaan tersebut penting karena angka kematian personel yang bertugas di kawasan konflik tidak selalu identik dengan jumlah korban yang secara resmi diklasifikasikan dalam operasi perang terhadap Iran.

Stars and Stripes, media yang secara khusus meliput militer Amerika Serikat, pada 10 Oktober mengonfirmasi perubahan tersebut berdasarkan pembaruan data Pentagon. Media itu melaporkan bahwa penghitungan korban perang kini terbagi menjadi dua kategori operasi yang mencakup periode berbeda.

Kategori pertama adalah Operation Epic Fury, nama operasi militer Amerika yang dimulai bersamaan dengan serangan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026. Dalam kategori tersebut, Pentagon mencatat 15 personel meninggal dan 417 mengalami luka-luka.

Kategori kedua adalah Overseas Operations atau operasi luar negeri, yang digunakan untuk mencatat korban sejak 7 Juli 2026 setelah pemerintahan Presiden Donald Trump menyatakan Operation Epic Fury telah berakhir. Dalam kelompok kedua ini, tercatat enam personel meninggal dan 448 lainnya terluka.

Penggabungan kedua kategori tersebut menghasilkan angka 21 personel meninggal dan 865 terluka. Namun, perubahan sistem klasifikasi di tengah konflik menimbulkan pertanyaan mengenai konsistensi pencatatan, terutama karena operasi militer dan bentrokan antara Amerika dengan Iran masih berlangsung setelah pengumuman berakhirnya Epic Fury.

Baca Artikel Selengkapnya