Peluang Damai AS-Iran Dinilai Masih Sulit, Stabilitas Harga Minyak Dunia Terus Terancam

2 jam yang lalu 5

Jakarta, NU Online

Dosen Hubungan Internasional Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta Robi Sugara menilai bahwa ancaman terbuka Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terhadap Iran dalam Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ke-81 di New York bukan sekadar retorika diplomasi biasa, melainkan mencerminkan strategi coercive pressure (tekanan paksaan) yang bertujuan utama melumpuhkan kapabilitas Iran.


"Menurut saya tidak pernah ada upaya damai dari Trump. Perbedaan Trump dengan kepemimpinan AS lainnya adalah Trump menaikan tekanannya menjadi coercive pressure ke Iran yang sebelumnya lebih diplomatis. Selagi pemahaman perundingan antara Trump dan Iran belum sama, saya kira sulit dilakukan," ujar Robi kepada NU Online pada Rabu (23/9/2026).


Menurut Robi, Trump secara konsisten membingkai opsi aksi militer terhadap Iran sebagai langkah yang legitimas di mata dunia. 


"Pertama, Trump masih membingkai bahwa perang yang dilakukan Trump adalah legitimate atau sah sebab menghadapi ancaman internasional. Ancaman keamanannya adalah eksistensi Iran dalam kapabilitas nuklirnya telah menyebabkan ketidakstabilan Timur Tengah," lanjut Robi. 


​Robi menambahkan bahwa ancaman keras tersebut menegaskan bahwa AS tidak sekadar mendorong Iran ke meja perundingan, melainkan membuka opsi perang kekuatan penuh. 


​"Kedua, bukan ingin masuk ke meja perundingan, tetapi Trump ingin menegaskan bahwa opsi-opsi ke depan perang bisa jadi dengan kekuatan penuh dengan cara membubarkan Republik Islam Iran," jelasnya. 

Meskipun terdapat kabar mengenai upaya perundingan di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB di New York tersebut, Robi menilai kesepakatan damai sulit dicapai karena adanya perbedaan mendasar dalam kalkulasi strategis kedua negara. 


​"Iran sampai hari ini masih membuka perundingan dengan tawaran yang belum bisa diterima oleh AS. Sebab tujuan perang ini melemahkan Iran. Jika kesepakatan damai dengan menyetujui permintaan Iran, maka berpotensi memberikan peluang ke Iran dalam meningkatkan kapabilitas ekonominya," ujar Robi.


Menurut Robi, pihak Iran tentu juga melakukan upaya diplomasi bahwa negaranya bukan bagian dari ancaman keamanan internasional kecuali sebagai upaya pertahanan.


​Terkait ketegangan di Selat Hormuz dan dampaknya pada ekonomi global, Robi mengingatkan bahwa stabilitas harga minyak dunia akan terus terancam selama belum ada jalur atau sumber energi alternatif. 


​"Selagi belum ada jalur alternatif akan mempengaruhi stabilitas harga minyak kecuali energi dunia sudah tergantikan oleh yang baru meski belum cukup, apalagi sekarang kebutuhan pasokan energi listrik besar banget. Dan akan ditambah parah jika Houthi Yaman juga menguasai selat lain di Bab al-Mandab," paparnya. 


​Sementara itu, perihal respons dunia internasional melalui PBB, Robi menilai peran PBB cenderung terbatas saat berhadapan dengan negara kekuatan besar. 


"PBB selesai hanya membuat resolusi. Jika kasusnya mengenai negara besar, susah mengeksekusinya. Tidak semua kan bergantung dengan Selat Hormuz Iran, ada Rusia dan AS punya cadangan minyak," kata Robi. 


​Meski menghadapi tekanan maksimal dari Washington, Robi mengatakan bahwa Iran diperkirakan akan menerapkan strategi bertahan dalam jangka panjang. 


"Iran sejak awal mengatakan bahwa untuk memenangkan peperangan ini bertahan selama mungkin. Itu saja membuat AS mengalami kerugian besar akibat budget perang yang dikeluarkan," pungkasnya.  


Dilaporkan bahwa sebelumnya Trump mengancam Iran secara terbuka saat menyampaikan pidato di hadapan Majelis Umum PBB dengan membela kebijakan luar negerinya serta melontarkan ancaman pemusnahan terhadap Republik Islam Iran.


"Akankah kesepakatan tercapai dengan Iran yang memungkinkan mereka membangun kembali dan menciptakan negara yang jauh lebih hebat dari sebelumnya, atau akankah saya memusnahkan Republik Islam, dan melakukannya dengan cepat, tanpa memberi mereka kesempatan untuk membunuh dan menghancurkan orang dan negara lagi?" ujar Trump dikutip NU Online dari PBS NewsHour, Rabu (23/9/2026).


Trump bersikeras menuduh Iran mengembangkan senjata nuklir. Ia menegaskan bahwa Iran harus segera menghentikan upaya pengembangan senjata nuklir tersebut, memutus dukungan terhadap kelompok teror, serta mengakhiri berbagai tindakan agresif di kawasan Timur Tengah. 


"Apakah saya akan menjerumuskan mereka ke neraka tanpa peluang untuk bertahan hidup dan tanpa harapan akan kejayaan atau generasi mendatang? Tetapi saya percaya kita akan mencapai kesepakatan tepat setelah pemilihan, karena tidak masuk akal bagi mereka untuk tidak melakukannya," lanjut Trump.


Melansir PBS NewsHour, Presiden Iran Masoud Pezeshkian memberikan bantahan tegas terhadap Trump. Ia secara tegas menolak klaim tuduhan yang dilontarkan pihak Washington. 


"Iran tidak pernah menginginkan perang, kami juga tidak berniat membuat senjata nuklir. Kemampuan pertahanan kami semata-mata untuk pencegahan dan melindungi hak-hak kedaulatan kami. Ancaman nyata bagi perdamaian kawasan bukanlah Iran, melainkan sanksi ilegal, intervensi militer, dan retorika pemicu perang yang datang dari Amerika Serikat," tegasnya. 


Presiden Pezeshkian menekankan bahwa narasi ancaman dan sanksi sepihak yang terus diembuskan oleh Washington justru menjadi pemicu utama instabilitas di kawasan. Ia menandaskan bahwa Iran siap mempertahankan diri dari segala bentuk agresi, sembari tetap membuka pintu bagi diplomasi yang adil dan saling menghormati tanpa adanya intimidasi dari pihak asing.


Sementara terkait negosiasi, Pezeshkian mengatakan hari ini bahwa Iran tidak mempercayai negosiasi lain, meskipun Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi bertemu dengan negosiator AS Steve Witkoff dan Jared Kushner.


"Kita sudah beberapa kali duduk di meja perundingan. Seluruh dunia melihat bahwa kesepakatan-kesepakatan itu mudah diinjak-injak. Mereka tidak bisa menggunakan kekerasan untuk memaksa orang lain tunduk," tegas Pezeshkian.

Baca Artikel Selengkapnya