REPUBLIKA.CO.ID, MADRID — Ketua Partai Podemos di Spanyol, Ione Belarra, mengatakan tekanan internasional terhadap Israel belum memadai dan masih jauh dari cukup. Belarra menginginkan Israel diboikot total oleh dunia internasional
Menurut Belarra, komunitas internasional telah mengecewakan rakyat Palestina yang menghadapi genosida oleh Israel. “Kami di Podemos percaya bahwa komunitas internasional telah benar-benar mengecewakan rakyat Palestina dan bahwa inisiatif ini adalah langkah setengah hati, jauh dari apa yang seharusnya dilakukan negara-negara untuk benar-benar menekan Israel dan mengakhiri genosida ini sekali dan untuk selamanya," kata Belarra, dikutip laman Anadolu Agency, Kamis (17/9/2026).
Dia kemudian menyinggung tentang kesepakatan gencatan senjata yang sudah diteken Israel dan Hamas pada Oktober 2025 lalu. Menurut Belarra, kesepakatan tersebut palsu dan semu. Sebab hingga kini Israel masih melanjutkan genosidanya di Jalur Gaza.
Belarra menyerukan agar memberlakukan tekanan lebih signifikan terhadap Israel. “Kami percaya bahwa Israel harus diusir dari semua organisasi internasional, terisolasi secara internasional, dan, tentu saja, bahwa semua hubungan militer dan komersial harus terputus," ujarnya.
Dia mengatakan, Podemos, yang merupakan partai sayap kiri di Spanyol, akan terus menekan pemerintah dalam negeri serta negara-negara lain untuk mengambil tindakan serupa. Spanyol merupakan salah satu negara yang paling vokal dalam mengecam Israel atas agresinya ke Gaza.
Pada 2024, Spanyol memutuskan mengakui negara Palestina. Langkah tersebut langsung memantik kecaman keras dari Israel.
Pada April 2026 lalu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menuduh Spanyol melancarkan kampanye diplomatik yang bermusuhan terhadap negaranya. “Israel tidak akan tinggal diam menghadapi mereka yang menyerang kita,” kata Netanyahu saat itu.
“Saya tidak siap untuk mentoleransi kemunafikan dan permusuhan ini. Saya tidak akan membiarkan negara mana pun melakukan perang diplomatik terhadap kami tanpa menghadapi konsekuensi langsung," tambah Netanyahu.
Tak lama setelah Netanyahu menyampaikan kritik tajamnya terhadap Madrid, Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez justru menyampaikan akan menyerukan Uni Eropa mengakhiri perjanjian asosiasinya dengan Israel.
“Pemerintah Spanyol akan mengajukan proposal kepada Uni Eropa agar Uni Eropa memutuskan perjanjian asosiasinya dengan Israel,” kata Sanchez dalam sebuah rapat umum politik di Andalusia pada 19 April 2026 lalu.
Sanchez menekankan, Israel telah secara gamblang melanggar berbagai hukum internasional. "Oleh karena itu (Israel) tak dapat menjadi mitra Uni Eropa. Sesederhana itu," ujarnya.
Pada 1995, Uni Eropa dan Israel menandatangani EU-Israel Association Agreement. Ia menjadi fondasi hukum utama yang mengatur hubungan Uni Eropa dengan Tel Aviv. Meski diteken pada 1995, perjanjian tersebut baru mulai berlaku pada bulan Juni tahun 2000.
EU-Israel Association Agreement mencakup klausul yang mewajibkan penghormatan terhadap hak asasi manusia. Spanyol dan Irlandia pertama kali menyerukan peninjauan kembali kesepakatan tersebut pada 2024. Kala itu, Israel tengah membombardir Jalur Gaza secara brutal. Dengan dalih menyerang fasilitas Hamas, Israel membantai warga sipil Gaza, termasuk perempuan dan anak-anak.

57 menit yang lalu
2






English (US) ·
Indonesian (ID) ·