Jakarta (ANTARA) - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memproyeksikan margin bunga bersih atau net interest margin (NIM) perbankan hingga akhir tahun ini akan tetap berada pada level yang sehat dan moderat.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan, tekanan terhadap NIM masih berpotensi berlanjut dalam jangka pendek apabila biaya dana (cost of fund) masih tinggi dan persaingan penghimpunan dana tetap ketat sedangkan suku bunga global mengarah pada peningkatan.
“Namun demikian, prospek NIM akan sangat bergantung pada efektivitas transmisi kebijakan suku bunga, kondisi likuiditas perbankan, serta keberlanjutan pertumbuhan kredit,” kata Dian dalam jawaban tertulis di Jakarta, Rabu.
Dian memperkirakan, ruang stabilisasi NIM akan semakin terbuka apabila pertumbuhan kredit dapat terus meningkat dengan kualitas yang tetap terjaga dan tekanan biaya dana mulai mereda.
Secara umum, OJK memandang bahwa kinerja NIM perbankan saat ini masih sesuai dengan situasi dan dinamika yang berlangsung dalam perekonomian Indonesia.
Kinerja NIM, jelas Dian, dipengaruhi oleh berbagai faktor, terutama biaya dana yang juga dipengaruhi oleh suku bunga global, struktur kepemilikan dana, profil risiko bank maupun nasabah, serta tingkat persaingan antarbank.
Menurutnya, salah satu tantangan utama yang dihadapi industri perbankan saat ini adalah tingginya cost of fund di tengah kondisi suku bunga yang masih relatif tinggi. Dalam situasi tersebut, persaingan penghimpunan dana menjadi lebih ketat sehingga mendorong kenaikan suku bunga dana pihak ketiga (DPK).
Di sisi lain, ruang untuk menaikkan suku bunga kredit lebih terbatas karena perlu mempertimbangkan kemampuan debitur dan keberlanjutan pertumbuhan kredit.
“Kondisi ini menyebabkan tekanan terhadap NIM menjadi cukup sulit dihindari,” imbuh Dian.
Meski demikian, OJK menyebut tingkat profitabilitas perbankan secara umum masih tergolong sangat baik.
NIM perbankan pada Juli 2026 tercatat sebesar 4,32 persen, lebih rendah dibandingkan Juli 2025 yang sebesar 4,57 persen. Menurut OJK, penurunan tersebut sejalan dengan penyesuaian suku bunga perbankan terhadap dinamika suku bunga global maupun domestik.
Baca juga: BNI revisi target NIM tahun ini dengan pendekatan lebih konservatif
Baca juga: Bank Mega akui jaga NIM jadi tantangan besar, bidik kenaikan tahun ini
Dian menjelaskan bahwa secara umum, dalam kondisi suku bunga yang meningkat, suku bunga DPK akan lebih cepat disesuaikan oleh bank dibanding suku bunga kredit, sehingga mempersempit spread bunga dan berdampak pada penurunan NIM.
Penyesuaian bunga kredit yang lebih lambat juga antara lain karena kredit umumnya memiliki tenor yang lebih panjang dengan sebagian kredit memiliki suku bunga tetap (fixed interest rate).
Di sisi lain, menurut Dian, pengorbanan margin tersebut juga mencerminkan upaya perbankan dalam menjaga stabilitas suku bunga kredit agar cost of financing bagi dunia usaha dan masyarakat tetap terjangkau sehingga dapat terus mendukung pertumbuhan ekonomi.
Dalam rangka menjaga ketahanan industri perbankan, Dian memastikan bahwa OJK terus melakukan pengawasan terhadap kondisi likuiditas, profitabilitas, dan manajemen risiko perbankan.
OJK juga mendorong perbankan untuk menjalankan strategi bisnis yang sehat dan berkelanjutan, termasuk melalui optimalisasi struktur pendanaan, peningkatan efisiensi, pengelolaan risiko yang baik, serta pertumbuhan kredit yang berkualitas.
“Dengan langkah-langkah tersebut, tekanan terhadap NIM diharapkan tetap terkendali, sementara industri perbankan tetap mampu menjaga keseimbangan antara pertumbuhan yang berkelanjutan, tingkat profitabilitas yang memadai, penerapan prinsip kehati-hatian (prudential banking) secara berkesinambungan, dan upaya menjaga stabilitas sistem keuangan tetap terpelihara,” kata Dian.
Baca juga: Indef: Margin bunga bersih bank turun perkuat akses KPR subsidi MBR
Baca juga: OJK proyeksikan NIM bank stabil dan moderat usai penurunan BI-Rate
Pewarta: Rizka Khaerunnisa
Editor: Budhi Santoso
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.







English (US) ·
Indonesian (ID) ·