OJK: Penyaluran kredit tumbuh kuat pada sejumlah sektor strategis

56 menit yang lalu 4

Jakarta (ANTARA) - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, penyaluran kredit secara bulanan (month to month/mtm) menunjukkan pertumbuhan yang kuat pada beberapa sektor strategis, seperti perdagangan besar dan eceran, industri pengolahan, pertambangan, pertanian, hingga konstruksi.

“Pertumbuhan kredit dari sektor-sektor tersebut dipandang akan terus mendorong pertumbuhan penyaluran kredit dan diharapkan dapat mendukung pencapaian target kredit perbankan sampai akhir tahun ini,” kata Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae dalam konferensi pers Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) secara daring di Jakarta, Senin.

Secara rinci, Dian menyampaikan bahwa kredit kepada sektor perdagangan besar dan eceran mencatatkan porsi sebesar 14,73 persen, diikuti sektor industri pengolahan dengan porsi kredit sebesar 16,66 persen.

Selanjutnya, sektor pertambangan dan penggalian dengan porsi kreditnya sebesar 5,21 persen; sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan dengan porsi sebesar 6,79 persen; serta sektor konstruksi dengan porsi 6,70 persen.

Baca juga: OJK: Pinjaman online tumbuh 22 persen capai Rp107 triliun per Agustus

Adapun total penyaluran kredit perbankan per Agustus 2026 tumbuh 13,65 persen secara tahunan (year on year/yoy) menjadi sebesar Rp9.178 triliun.

OJK mencatat, pertumbuhan kredit berada di atas pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK). Per Agustus 2026, DPK tumbuh sebesar 10,94 persen (yoy) menjadi sebesar Rp10.413 triliun.

Sejalan dengan itu, loan to deposit ratio (LDR) perbankan tercatat sebesar 88,14 persen, meningkat baik secara bulanan maupun tahunan.

Meski LDR naik, Dian mengatakan bahwa hal tersebut perlu dilihat secara proporsional sebagai bagian dari fungsi intermediasi perbankan, meskipun pada saat yang bersamaan mencerminkan adanya penurunan likuiditas sebagai konsekuensi dari penyaluran kredit yang tumbuh lebih tinggi dibandingkan sumber pendanaannya.

Baca juga: OJK beri perlakuan khusus kredit bagi debitur terdampak gempa NTT

Dalam beberapa bulan terakhir, imbuh dia, alat likuid perbankan juga terpantau cenderung melandai, khususnya pada bank-bank dengan pertumbuhan kredit yang relatif tinggi.

Meski demikian, Dian memastikan likuiditas secara industri juga masih berada pada level yang memadai. Hal ini tercermin dari berbagai rasio likuiditas utama yang masih berada pada level yang memadai dan berada di atas ketentuan minimum.

Pada Agustus 2026, liquidity coverage ratio (LCR) perbankan sebesar 187,07 persen atau berada di atas ketentuan yang sebesar 100 persen.

Sementara rasio alat likuid non-core deposit (AL/NCD) sebesar 102,31 persen dan alat likuid dana pihak ketiga (AL/DPK) sebesar 23,04 persen, juga berada jauh di atas threshold ketentuan yang berlaku.

Pewarta: Rizka Khaerunnisa
Editor: Zaenal Abidin
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Baca Artikel Selengkapnya