Jakarta (ANTARA) - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai keberhasilan bank digital tidak cukup diukur dari pertumbuhan pengguna dan laba jangka pendek sehingga bank digital perlu menjaga kualitas pertumbuhan setelah berhasil mencetak profit.
“Yang lebih penting adalah kualitas pertumbuhan, yaitu struktur pendanaan yang sehat, kemudian kualitas aset yang terjaga, efisiensi yang meningkat, permodalan yang kuat, serta profitabilitas yang berkelanjutan,” kata Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae dalam acara BIG Financial Insights di Jakarta, Rabu.
Dian mengungkapkan, hampir seluruh bank digital di Indonesia telah mencatatkan profit pada laporan keuangan tahun 2025. Apabila mencermati praktik di negara lain, menurutnya, kinerja bank digital Indonesia patut diapresiasi.
Ia mencontohkan bahwa di Singapura, bank digital sudah beroperasi selama hampir lima tahun. Namun pada 2025, baru satu dari lima bank digital yang sudah berhasil mencetak profit.
Hal serupa juga dialami oleh Hong Kong. Pada 2025, hanya tiga dari delapan bank digital yang sudah mencapai breakeven meskipun sudah beroperasi lebih dari lima tahun.
Dian mengatakan, kedua contoh tersebut tentunya bukan untuk menjustifikasi kinerja bank digital di Indonesia, melainkan untuk memberikan gambaran bahwa semua model bisnis bank digital masih dalam tahap perkembangan.
“Namun dalam fase berikutnya, ukuran keberhasilan tentu tidak cukup hanya dilihat dari pertumbuhan jumlah pengguna atau laba dalam jangka pendek,” ujar dia.
Pada kesempatan tersebut, Dian mengingatkan beberapa tantangan yang perlu menjadi perhatian bersama, salah satunya yang terkait dengan kemandirian infrastruktur.
Ia mengatakan, selama ini masih banyak bank digital yang memiliki ketergantungan infrastruktur teknologi informasi (TI) pada pihak lain, khususnya kepada induknya.
Hal tersebut berdampak pada fleksibilitas bank digital dalam pengembangan TI dan inovasi digital, khususnya apabila perusahaan induk memiliki fokus pengembangan yang berbeda.
“Oleh sebab itu, kemandirian infrastruktur TI menjadi hal yang penting karena memiliki peran sentral dalam menjamin keberlangsungan operasional dan pengembangan bank digital selanjutnya,” kata Dian.
Baca juga: OJK: Bank digital perlu bangun ekosistem jadi bisnis berkelanjutan
Baca juga: Bank BSN perluas merchant untuk pacu transaksi digital
Dian mengingatkan, tantangan berikutnya adalah terkait dengan penguatan keamanan terhadap ancaman siber karena dalam beberapa tahun terakhir terjadi serangan siber maupun fraud di beberapa bank. "Insiden tersebut juga tidak jarang bersumber dari pihak lain yang terkoneksi dengan bank," katanya.
Untuk berkolaborasi dalam ekosistem digital, bank digital perlu membuka koneksi dengan berbagai platform atau aplikasi. Namun, hal ini menimbulkan risiko karena dapat menjadi celah keamanan pada platform aplikasi bank digital yang merupakan saluran utamanya dalam melayani nasabah.
“Oleh karena itu, bank digital perlu memiliki sistem pengamanan TI yang memadai sehingga mampu tetap resilien di tengah ancaman siber yang ada saat ini,” kata Dian.
Tantangan lainnya yang menurut Dian juga cukup krusial adalah pemanfaatan emerging technology. Menurutnya, bank digital perlu memiliki kesadaran yang tinggi mengenai perkembangan berbagai emerging technologies global seperti artificial intelligence, blockchain dan distributed ledger technology, serta quantum computing.
“Hal ini bukan semata-mata untuk menilai potensi kebermanfaatannya bagi bank, namun juga sebagai langkah antisipasi atas risiko yang timbul dari penyalahgunaannya,” kata dia.
Ia menambahkan, AI menjadi salah satu contoh emerging technologies yang perlu menjadi perhatian. Di tingkat industri, penggunaan AI yang semakin luas juga dapat meningkatkan ketergantungan pada pihak ketiga penyedia teknologi, memperbesar konsentrasi pasar pada sejumlah pemain dominan, serta mendorong perilaku yang lebih seragam antar institusi keuangan.
“Oleh karena itu, pengembangan AI di sektor perbankan perlu diimbangi dengan tata kelola, pengawasan, dan manajemen risiko yang memadai agar manfaat inovasi dapat diperoleh tanpa mengorbankan stabilitas dan kepercayaan terhadap sistem keuangan,” kata Dian.
Dalam menghadapi tantangan tersebut, Dian memandang bank digital perlu memiliki fondasi yang kuat, baik dari sisi permodalan, tata kelola, manajemen risiko, kapasitas teknologi, maupun sumber daya.
Pembangunan infrastruktur TI, penguatan pengamanan siber, dan adopsi emerging technology serta mitigasi penyalahgunaan menuntut struktur permodalan yang kuat. Penguatan permodalan ini dapat dicapai secara organik melalui pemupukan laba secara bertahap maupun melalui aksi korporasi.
“Dengan konsolidasi dan permodalan yang kuat, maka bank akan lebih agile ketika melakukan adopsi teknologi terkini yang dibutuhkan. Yang terpenting adalah kapasitas permodalan itu harus sejalan dengan kompleksitas kegiatan usaha, kemudian juga profil risiko, dan kebutuhan investasi untuk mendukung pertumbuhan yang sehat,” kata Dian.
Baca juga: BI catat transaksi digital tumbuh 28,69 persen per Juli 2026
Baca juga: BI tata struktur industri sistem pembayaran hadapi risiko digital
Pewarta: Rizka Khaerunnisa
Editor: Budhi Santoso
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.







English (US) ·
Indonesian (ID) ·