NU Digdaya 2050: Relevan bagi Siapa?

1 jam yang lalu 2

Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama telah menetapkan NU Digdaya 2050, sebuah peta jalan 25 tahun untuk membawa NU menuju transformasi organisasi, kemandirian, kepemimpinan etik, hingga ekosistem peradaban. Lima tahap telah dirancang: Transformasi Jam’iyah (2026–2030), Akselerasi Transformasi (2031–2035), Kemandirian Jam’iyah (2036–2040), Kepemimpinan Etik (2041–2045), dan Ekosistem Peradaban (2046–2050). Secara gagasan, ini merupakan langkah penting karena organisasi sebesar NU memang membutuhkan orientasi jangka panjang.


Namun, ada satu pertanyaan yang justru perlu terus diajukan: NU 2050 itu relevan bagi siapa?


Pertanyaan ini penting karena 2050 bukan sekadar masa depan organisasi, melainkan masa depan generasi yang hari ini bahkan belum seluruhnya lahir. Pada 2050, generasi Baby Boomers mungkin sudah menjadi bagian dari sejarah. Generasi X akan berada pada usia lanjut, sementara Millennials dan Gen Z menjadi generasi senior. Generasi Alpha akan berada dalam usia produktif, dan generasi Beta mungkin justru menjadi kelompok yang menentukan arah kehidupan sosial, ekonomi, politik, dan teknologi. Mereka inilah yang kelak hidup dengan NU 2050.


Di sinilah persoalannya menjadi lebih kompleks. Kita tidak sedang menyusun rencana untuk dunia yang kita kenal sekarang, melainkan untuk dunia yang sebagian besar belum kita pahami. Bahkan untuk 2030 saja, perubahan teknologi berlangsung begitu cepat sehingga banyak asumsi hari ini bisa kehilangan relevansinya dalam beberapa tahun.


World Economic Forum memperkirakan 86 persen pemberi kerja melihat AI dan teknologi pemrosesan informasi sebagai faktor utama transformasi bisnis hingga 2030. Sekitar 39 persen keterampilan yang ada sekarang diperkirakan berubah atau menjadi usang, sementara 22 persen pekerjaan akan mengalami transformasi struktural. Artinya, jika horizon 2030 saja penuh ketidakpastian, bagaimana mungkin kita membayangkan secara presisi bentuk masyarakat pada 2050?


Karena itu, tantangan utama NU Digdaya bukanlah membuat prediksi yang akurat tentang 2050. Tantangannya adalah membangun kemampuan beradaptasi ketika prediksi kita ternyata salah.


Di sinilah isu generasi menjadi penting. Data Alvara menunjukkan bahwa kedekatan masyarakat Muslim Indonesia dengan NU secara keseluruhan masih kuat, sekitar 57,2 persen. Namun pada Gen Z, angkanya berada di sekitar 51 persen. Angka ini tidak berarti Gen Z meninggalkan NU. Tetapi ia memberikan sinyal bahwa mekanisme regenerasi dan pewarisan identitas keagamaan tidak bisa lagi dianggap otomatis.


Menariknya, persoalannya bukan berarti Gen Z semakin tidak religius. Survei Kementerian Agama bersama Alvara justru menunjukkan Gen Z memiliki indeks toleransi 79,65 dan indeks kemampuan membaca Al-Qur’an secara tartil 56,29, bahkan lebih tinggi daripada beberapa generasi yang lebih tua. Dengan kata lain, religiusitas dapat tetap kuat sementara keterikatan terhadap organisasi berubah.


Ini seharusnya menjadi bahan refleksi serius bagi NU. Generasi muda tidak selalu bertanya, “Apakah NU bagian dari identitas keluarga saya?” Mereka semakin mungkin bertanya, “Apa arti NU bagi kehidupan saya?”


Pertanyaan tersebut sangat relevan bagi organisasi yang selama ini memiliki kekuatan besar melalui tradisi, pesantren, keluarga, jaringan kiai, dan kultur komunitas. Identitas dapat diwariskan, tetapi relevansi tidak. Relevansi harus terus dibuktikan melalui pengalaman nyata.


Karena itu, istilah “transformasi” dalam NU Digdaya perlu diuji lebih jauh. Transformasi organisasi tidak otomatis menghasilkan relevansi. Digitalisasi juga tidak otomatis membuat organisasi digital-native. Kaderisasi tidak otomatis membuat generasi muda merasa memiliki organisasi. Pertanyaan yang lebih penting adalah: transformasi untuk siapa dan relevansinya diukur dengan apa?


Empat pilar kemaslahatan dalam NU Digdaya—pesantren dan Aswaja, peningkatan kualitas SDM NU, kesejahteraan sosial-ekonomi, serta lingkungan berkelanjutan—sesungguhnya sangat relevan dengan tantangan generasi mendatang. Tetapi relevansi itu harus diterjemahkan ke dalam kebutuhan konkret generasi muda: keterampilan AI, pekerjaan masa depan, kewirausahaan, literasi digital, perubahan iklim, kesehatan sosial, jejaring global, dan ruang partisipasi yang bermakna.


Karena itu, mungkin NU membutuhkan bukan sekadar roadmap menuju 2050, tetapi living roadmap—peta jalan yang terus diperbarui berdasarkan perubahan zaman dan suara generasi yang akan menjalankannya.


Lima tahap NU Digdaya dapat dibaca kembali dari perspektif ini. Transformasi 2026–2030 harus membangun organisasi yang benar-benar dipahami dan dipercaya generasi muda. Akselerasi 2031–2035 harus memperbesar program yang terbukti relevan. Kemandirian 2036–2040 harus menjawab masa depan ekonomi dan pekerjaan generasi baru. Kepemimpinan etik 2041–2045 harus memberi ruang lebih besar kepada generasi yang tumbuh bersama AI. Sedangkan ekosistem peradaban 2046–2050 harus menjadi ekosistem yang dirasakan sebagai milik generasi masa depan, bukan sekadar warisan generasi sebelumnya.


Karena itu, Gen Z, Alpha, bahkan Beta tidak seharusnya hanya ditempatkan sebagai objek kaderisasi. Mereka harus menjadi co-creators masa depan NU. Mereka perlu diberi ruang untuk ikut menentukan seperti apa organisasi yang mereka butuhkan, bagaimana nilai-nilai Aswaja diterjemahkan dalam dunia digital, dan bagaimana tradisi NU berinteraksi dengan teknologi yang belum kita kenal hari ini.


Pada akhirnya, keberhasilan NU Digdaya tidak semestinya hanya diukur dari seberapa besar organisasi ini pada 2050, berapa banyak lembaga yang dimiliki, atau seberapa luas jejaringnya. Ukuran yang lebih mendasar adalah apakah generasi yang hidup pada 2050 masih merasa bahwa NU berbicara tentang kehidupan mereka, menjawab kegelisahan mereka, dan menawarkan jalan keluar bagi zamannya.


Sebab yang perlu dirancang untuk 2050 bukanlah bentuk NU-nya, melainkan kemampuan NU untuk terus menjadi relevan ketika bentuk dunia berubah.


NU Digdaya bukan tentang NU yang paling besar pada 2050, melainkan NU yang paling bermakna bagi zamannya.


Eko Ernada, Cendekiawan Nahdlatul Ulama dan Wakil Rektor Universitas Nahdlatul Ulama Kalimantan Timur
 

Baca Artikel Selengkapnya