Netanyahu Tuding Iran Mau Ganggu Pemilu Israel: Jangan Uji Kami

1 jam yang lalu 1

Jakarta, CNN Indonesia --

Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menuding Iran dan sekutunya kemungkinan akan mencoba mengganggu pemilihan umum (pemilu) Israel yang bakal digelar besok, Selasa (27/10).

Dalam pernyataan resmi berbentuk video, Netanyahu bahkan mengutip informasi intelijen untuk memperkuat tuduhannya.

"Kami punya tanda-tanda intelijen bahwa musuh kami, Iran dan proksinya, bisa menantang kami dengan serangan, dengan tujuan mengganggu pemilu," kata Netanyahu pada Minggu, dikutip AFP.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Jangan uji kami. Anda akan menerima pukulan yang lebih keras," imbuhnya.

Netanyahu juga menekankan militer Israel siap untuk operasi pertahanan sekaligus meluncurkan serangan.

Di hari yang sama sebelum pernyataan dirilis, Netanyahu mengunggah gambar buatan AI semacam ledakan bom nuklir. Ia lantas mengulangi pernyataan soal keamanan Israel jika program nuklir Iran tak dihentikan.

"Negara Israel berada dalam bahaya eksistensial yang nyata dan konkret. JIka, Iran berhasil mendapat senjata nuklir, tak ada yang akan berubah lagi," kata Netanyahu.

Dalam kampanye pemilihan ini, Netanyahu terus menggemakan keamanan Israel dan tindakan-tindakan dia selama ini yang diklaim upaya menyelamatkan negaranya.

Selama tiga tahun terakhir, Netanyahu justru menempatkan warga Israel dalam posisi bahaya. Mulai dari meluncurkan agresi ke Jalur Gaza, Palestina yang memicu rentetan serangan balasan, perang dengan Hizbullah di Lebanon, perang dengan Iran, perang dengan milisi di Suriah dan Irak, serta perang dengan Houthi.

Jelang pemilihan, menurut jajak pendapat, popularitas Netanyahu dan Partai Likud menurun. Di posisi yang rentan itu, dia sampai-sampai mendesak partai berhaluan kanan yang tak bisa melebihi ambang batas pemilu agar mengundurkan diri dari pemilihan.

[Gambas:Video CNN]

Dalam pemilu Israel, partai harus melewati ambang batas 3,25 persen untuk bisa duduk di kursi parlemen. Menguasai kursi di parlemen berarti membuka jalan untuk memilih perdana menteri dari partai atau koalisi itu.

Jika partai itu mundur, akan menciptakan peluang Partai Likud menguasai Knesset dan Netanyahu menjadi perdana menteri lagi.

(isa/dna)

Baca Artikel Selengkapnya