Netanyahu Sebut Inggris Bakal Jadi ‘Republik Islam’ Pertama yang Punya Bom Nuklir

1 jam yang lalu 3

REPUBLIKA.CO.ID, TEL AVIV – Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyebut Inggris sebagai "republik Islam Inggris" dalam sebuah wawancara siniar. Ia juga menggambarkan negara tersebut sebagai "republik Islam pertama yang memiliki senjata nuklir". 

Menurut the Guardian, komentar yang disampaikan dalam wawancara dengan radio militer Israel itu mengamini narasi umum kelompok sayap kanan ekstrem yang bersifat Islamofobik terkait populasi Muslim yang kecil di Inggris.

Netanyahu memuji pemberitaan positif mengenai Israel yang dilakukan oleh jurnalis Randolph Churchill—putra mantan Perdana Menteri Winston Churchill—lebih dari setengah abad yang lalu. "Coba cari hal seperti itu di Inggris saat ini, di tempat yang disebut sebagai republik Islam Inggris," ujarnya dilansir pada Jumat.

Alih-alih menyanggah komentar Netanyahu, sang pembawa acara mempertanyakan apakah Netanyahu secara tidak adil menyoroti Inggris secara khusus. “Bukankah seluruh Eropa juga seperti itu?" 

Netanyahu menjawab dengan menegaskan kembali pendiriannya. "Ya, tapi Anda tahu, ada yang bilang republik Islam pertama yang memiliki senjata nuklir adalah republik Islam Inggris."

Dalam hal inipun Netanyahu keliru. Padalnya, Pakistan, yang secara resmi bernama Republik Islam Pakistan, telah memiliki persenjataan nuklir sejak tahun 1990-an.

Hubungan antara Inggris dan Israel semakin tegang dalam beberapa bulan terakhir, terutama sejak Andy Burnham mengambil alih kursi perdana menteri. 

Sesaat sebelum menjadi perdana menteri, ia meminta maaf atas respons awal Partai Buruh terhadap tindakan militer Israel di Gaza. 

Burnham mengakui bahwa partai tersebut "tidak mengambil langkah yang tepat" dan perlu "berbuat lebih baik" di bawah kepemimpinannya, yang menandakan perubahan signifikan dalam pendekatan Inggris terhadap Timur Tengah. 

Pada bulan Juli, ia menyatakan akan "berupaya lebih keras untuk menekan pemerintah Israel", termasuk melalui penerapan sanksi tambahan terhadap individu dan entitas, serta kemungkinan larangan perdagangan barang dengan permukiman ilegal.

Wakil Presiden AS, JD Vance, melontarkan pernyataan serupa dengan komentar Netanyahu selama kampanye pemilihan presiden 2024; ia mengatakan bahwa Inggris bisa menjadi negara "benar-benar Islamis pertama yang memiliki senjata nuklir". 

Wali Kota London, Sadiq Khan, juga kerap menjadi sasaran serangan bernuansa rasial dari para pemimpin sayap kanan di luar negeri—termasuk Donald Trump—yang berupaya meraih keuntungan politik melalui kebohongan yang didasari Islamofobia.

Baca Artikel Selengkapnya